Loading...
Open Recruitment

Cinta. Semua orang selalu membicarakannya dengan bejibun pertanyaan yang berkenaan dengan persoalan tersebut. Seolah ada dorongan misterius tertentu—semua orang begitu bersemangat jika sudah membicarakan tentang cinta. Mengapa semua harus bersemangat membicarakannya? Apa itu cinta? Atau, mengapa harus cinta?

Itu adalah beberapa pertanyaan—yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Karena cinta bukanlah perkara mudah untuk dibicarakan dengan bahasa yang umum kita gunakan. Adalah benar bahwa kita dilahirkan sendiri, tanpa sama sekali memiliki pengalaman konseptual apapun mengenai cinta. Namun begitu, kita selalu dihadapkan pada perkara rumit dan melankolis seperti ini di kehidupan atau di keseharian kita. Mengingat bahwa secara alami—karena cinta lah mengapa kita kini terlahir di dunia, yaitu cinta dari ayah dan ibu.


Juga menurut saya, saat kita membicarakan cinta akan ada banyak cerita yang tercipta, baik suka maupun duka. Cinta adalah kisah yang adil, di mana dua sisi berseberangan, suka dan duka dapat berbaur satu sama lain. Karena cinta tidak muluk memiliki akhir yang bahagia. Tak sedikit orang yang gagal dalam kisahnya atau bahkan terhenti di tengah jalan. Faktanya, dari sekian banyak manusia di dunia ini, hanya sedikit saja yang memiliki kisah cinta yang berakhir dengan bahagia.

Ada yang berpendapat bahwa cinta itu laiknya “sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda—dan saling bertolak belakang, di satu sisi ia merepresentasikan kebahagiaan, dan di sisi yang lain cinta juga merepresentasikan kesedihan." Dalam artian, cinta adalah tentang kebahagiaan dan kesedihan. Ketika kita memahami dengan benar apa itu cinta, seharusnya kita juga bisa memahami bahwa cinta tak muluk tentang bahagia. Rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam juga hadir di dalamnya. Entah itu berasal dari harapan-harapan kita ataukah justru berasal dari sesuatu yang kita cintai. 

Namun, bukankah kita berhak bahagia atas harapan kita? Mengapa kita justru kecewa karena harapan? Menurut saya, pada dasarnya, kita memiliki kemampuan untuk mengatur segala perasaan-perasaan kita; kecewa dan bahagia adalah pilihan kita, dan kita berhak dan mampu kapan saja meninggalkan perasan negatif seperti itu jika terlalu menyakitkan kita. Kita berhak atas apapun yang kita kehendaki.

***

Terlepas dari itu, di lain sisi, juga ada yang berpendapat bahwa cinta itu adalah saat “ketika kita melakukan semua hal untuk membuat orang yang kita cintai bahagia.” Pernyataan yang eksentrik seperti ini mungkin menyisakan pertanyaan besar di benak kita; mengapa perasaan kita semata-mata diperuntukan hanya untuk kebahagiaan orang lain dengan menyampingkan kebahagiaan pribadi kita? Menurut saya, itulah jenis cinta yang didasarkan atas keikhlasan. Ikhlas bahwa perasaan kita menuntut kita agar untuk lebih mengutamakan apa yang membuat orang yang kita cinta bahagia, dan bahwa kebahagiaannya juga adalah bagian dari kebahagiaan kita. Karena ikhlas adalah melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan, tanpa mengharapkan apapun sebagai ganti. Karena jika kita masih mengharapkan dia untuk membalas segala kebaikan kita, itu berarti perasaan kita tak lebih dari sekadar ego yang pragmatik; bahwa Anda masih mengharapkan sesuatu hal dari cinta tersebut.

Namun demikian, saya merasa bahwa adalah adil untuk berpikir bahwa kita juga berhak atas apapun yang ingin kita lakukan atau dapatkan. Kita berhak atas harapan-harapan kita. Kita berhak bahagia. Namun ingat satu hal, bahwa cinta ya cinta. Ia tidak sama dengan hubungan jual beli. Dalam artian kita jangan menuntut bayaran apapun sebagai balasan semua hal yang telah kita beri.

Kita hanya perlu menunggu dan bersabar demi kebahagiaan kita sendiri. Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa kebahagiaannya juga adalah kebahagiaan kita. Jika hari ini kita masih tersakiti, maka sabar adalah pilihan terbaik bagi kita. Karena saya percaya bahwa suatu saat kita pasti akan mendapatkan semua hal yang kita harapkan, bahwa ada saat di mana kelak kita akan bahagia; Semua hanya tentang waktu.

Namun, bagaimana dengan rasa sakit yang kerap kita terima sebagai ganti perasaan kita? Apakah salah apabila kita membalas kekecewaan kita? Bagi saya, itu jelas merupakan sebuah kesalahan, karena cinta bukan lah tentang balas membalas, namun adalah tentang keikhlasan; Apapun yang kita lakukan semata-mata hanya untuk membuat orang yang kita cintai bisa bahagia. Jika Anda kecewa, maka cobalah untuk membuang perasaan itu, karena prioritas utama kita dalam mencintai ialah kebahagiaannya. Bodoh? Ya, itu memang bodoh! Bodoh karena kita hanya mengutamakan kebahagiaan orang lain, tanpa memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

Namun begitu, tak dapat dinafikkan, ketika seseorang sudah terlarut dalam rasa sakitnya, meninggalkan/melepaskan menjadi hal yang kerap menjadi pilihan. Dan tentu saja itu adalah hak setiap orang. Karena terkadang pergi meninggalkan dan melepaskan merupakan hal yang cukup solutif.

Anda adalah otoritas atas diri Anda sendiri. Anda adalah satu-satunya orang yang berhak atas diri Anda sendiri. Anda berhak melakukan semua hal yang Anda inginkan. Anda juga berhak atas keinginan Anda sendiri. Namun ada satu hal yang perlu kita garis bawahi, bahwa siapa pun orangnya, kapan pun waktunya, dan di mana pun itu—cinta bukan sekadar tentang kebahagiaan, namun juga tentang kesedihan, rasa sakit, dan juga penderitaan. Dengan memahami segala konsekuensi negatif yang diakibatkan perasaan tersebut, kita akan selalu siap untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Olehnya, siapapun yang menjadi pilihanmu, kebahagiaan mungkin ada, namun kesedihan akan selalu menjadi kemungkinan.

Sherly Agnes Viany P, Mahasiswa IAIN Palu

Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment