Loading...
Open Recruitment

Judul Asli Homo Deus: A Brief History of Tomorrow
Penulis Yuval Noah Harari
Terjemahan Yanto Musthofa
Penerbit Pustaka Alvabet
Terbit 2016/2018
Tebal 525 halaman
ISBN 9786026577337

Apa yang membuat kita dapat memahami realitas dan keberadaan kita? Bagaimana cara kita mengonseptualisasikan realitas menjadi sebuah kesadaran eksistensial? Dan bagaimana jika suatu hari, semua itu secara spontan menjadi mudah untuk dimengerti, yang alih-alih membawa kita ke tahap yang lebih evolusioner, justru membawa kita pada krisis yang tak pernah kita alami sebelumnya—apa yang akan kita lakukan?


Saya kerap masih memikirkan pertanyaan-pertanyaan berat seperti itu setelah menyelesaikan 'Homo Deus'. Buku yang cukup provokatif dari Yuval Noah Harari.

Profesor muda di Universitas Ibrani Yarussalem ini ialah penulis yang memiliki atribusi dan integrasi yang besar. Harari mengumpulkan begitu banyak temuan dari berbagai disiplin ilmu, lalu menyatukannya dalam satu sudut pandang yang mungkin tidak pernah0 kita duga sebelumnya. Tidak mengherankan jika peraih hadiah Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman, berkata bahwa Homo Deus merupakan sebuah buku yang sanggup "mengejutkan Anda, juga menghibur Anda. Dan yang terpenting, buku ini membuat Anda berpikir dengan cara yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya."



Sebelum ia menerbitkan 'Homo Deus', Harari sudah menerbitkan buku lain yang berjudul, 'Sapiens', yang memaparkan sejarah umat manusia selama 75.000 tahun terakhir. Ia menulis buku tersebut guna untuk mengingatkan sekaligus menegaskan kepada kita bahwa manusia sama sekali tidak seistimewa yang kita pikirkan. Kita merupakan kecelakaan. 

Olehnya buku itu diakhiri dengan pemikiran bahwa kisah homo sapiens akan segera berakhir; kini manusia tengah berada di puncak dari pucuk eksistensialnya. Buku 'Homo Deus' nampaknya memanfaatkan ini untuk menjelaskan bagaimana kemampuan manusia yang tak tertandingi selama ribuan tahun itu mampu mengendalikan dunia.

Harari nampaknya juga mendulang kesuksesannya melalui buku ini. Karisma Harari dalam buku ini pun masih terjaga: sebagaimana 'Sapiens', integrasi dan gaya bercerita yang sederhana, jelas, mengalir, dan mencerahkan masih menjadi ciri khas dalam buku keduanya ini. Sayangnya, berbeda dengan buku sebelumnya, 'Homo Deus' menyampaikan perkembangan manusia yang cukup kelam dan distopia dengan spekulasi yang cenderung berlebihan.

Analisisnya dalam 'Homo Deus' dipenuhi dengan renungannya tentang bagaimana keajaiban sains dan teknologi. Dia meramalkan kemajuan di berbagai bidang yang akan menghasilkan perkembangan kognitif manusia yang mungkin belum pernah ada sebelumnya.

Namun, meskipun Harari menyajikan banyak hal menarik dalam menjelaskan semua itu, konsepsi dasar yang menjadi penopang buku ini sesungguhnya relatif sederhana, yaitu otak dan bagaimana kemampuan kognitif manusia yang terus berkembang tanpa batas.

Algoritma: Antara Kesadaran dan Kecerdasan

Konsep ini sebenarnya juga melandasi buku pertamanya. Itulah mengapa, bab pertama 'Sapiens' adalah tentang Revolusi Kognitif. Dalam 'Homo Deus', konsep ini menjadi lebih eksplisit dan lebih rinci, dibahas dalam berbagai hubungannya dengan banyak unsur peradaban lainnya, seperti agama, negara, sistem ekonomi, serta bagaimana--kemampuan kognitif manusia--secara ajaib berubah.

'Homo Deus' menjelaskan bahwa, manusia kini tengah berada di puncak transisi evolusinya dalam sejarah, yang mana manusia akan menyaksikan dirinya berada dalam tangga evolusi kehidupan yang dikendalikan oleh proses-proses algoritma. Akibatnya kebanyakan manusia akan menjadi sesuatu yang mulai didominasi oleh algoritma yang tidak memiliki kesadaran namun cerdas. Harari menyebut proses algoritma ini sebagai sesuatu yang "mengenal kita lebih baik daripada diri kita sendiri."

Bukti transisi manusia tersebut kini dapat kita saksikan di mana saja. Kita kini tidak hanya dapat menaklukkan alam, namun juga mulai menaklukan musuh terburuk seperti kelaparan dan penyakit menular. Bahkan, dengan kemajuan yang kita dapatkan, secara eksponensial perang sudah berkurang; kelaparan secara ekstrim mulai dapat diminimalisir; dan penyakit-penyakit yang dahulu membuat leluhur kita ketakutan pun kini sudah dapat kita atasi.

Cara manusia bisa mencapai hal ini ialah dengan membangun jaringan kompleks tertentu berangkat dari pemahaman baru bahwa manusia ialah sebuah unit informasi bagi proses algoritmanya. Ilmu evolusi modern mengajarkan kita bahwa, kita tidak lain adalah mesin pemroses data: kita adalah algoritma itu sendiri. Dengan memanipulasi data, kita mungkin bisa menguasai dan menentukan bagaimana takdir kita.

Namun, masalahnya adalah gagasan antroposentrisme kita juga mulai mendominasi segala aspek dari pencapaian kita. Pengetahuan kita mulai diarahkan pada bagaimana algoritma yang sama dapat diberikan pada teknologi kita. Alhasil, algoritma lain—yang telah kita buat—dapat melakukan sesuatu hal yang jauh lebih baik daripada yang bisa kita lakukan. Contoh yang paling dekat mungkin dapat kita temukan pada perkembangan teknologi AI (kecerdasan buatan) kita. Inilah yang dimaksud oleh Harari dengan "lepasnya" kecerdasan dan kesadaran. Namun nampaknya hal ini tidak begitu diperhatikan. Sikap perfeksionisme kita membuat kita memisahkan antara kecerdasan dan kesadaran.

Menurut Harari, sistem algoritma yang digunakan Google dan Amazon sesungguhnya sama dengan algoritma yang terjadi pada sistem kognitif manusia setiap kali manusia berpikir atau mengambil keputusan. Bedanya hanya terletak pada kompleksitasnya. Namun, perbedaan ini hanya sekadar persoalan teknis semata. Semakin ilmu berkembang, semakin perbedaan ini akan teratasi—bahkan setelah sekian tahun, komputer IBM, Deep Blue, pun kini sanggup mengalahkan grandmaster catur terkemuka, Garry Kasparov.


Di suatu titik, kemampuan algoritma dalam komputer dan sains mungkin akan berkembang sedemikian rupa sehingga dapat melampaui kemampuan kognitif manusia dalam tiap bidang kehidupan, bukan hanya di meja catur. Apalagi, internet kini sudah membentuk sebuah sistem yang cukup rumit dan menarik yang disebut dengan "internet of things" (IoT). Inilah yang Harari sebut sebagai Sapiens Black Box. Singkatnya, karena tuntutan riil, manusia sudah mulai menelanjangi mahkotanya sendiri yang selama ini masih berupa misteri.

Harari berhati-hati untuk tidak meramalkan bahwa penglihatan aneh yang cukup mengejutkan ini akan terjadi. Masa depan memang tidak bisa diketahui. Jika kecerdasan dan kesadaran mulai berpisah maka ini menempatkan sebagian besar manusia dalam situasi yang sama seperti hewan lainnya: menderita di tangan pemilik kecerdasan yang lebih tinggi. Dalam kasus ini mungkin adalah AI dan algoritmanya.

Harari nampaknya tidak terlalu khawatir tentang prospek robot atau kecerdasan buatan yang  (mungkin) kelak memperlakukan kita seperti kita memperlakukan lalat. Sebaliknya, dia mulai dengan mendorong kita agar memikirkan tentang bagaimana perlakuan kita terhadap hewan dalam industri atau pertanian kita selama ini. Seekor sapi atau simpanse pasti akan menderita jika hidup dalam kondisi yang sempit atau secara paksa dipisahkan dari anak-anaknya. Jika kita berpikir bahwa "oh, penderitaan tersebut tidak dihitung karena mereka tidak secerdas kita," maka sebenarnya kita sedang membuat cambuk untuk diri kita sendiri. Kemajuan teknologi memungkinkan hal yang sama di masa depan akan segera terjadi pada kita; bahwa pemiliki kecerdasan yang lebih tinggi (AI) kemungkinan kelak (jika mereka dapat membentuk algoritma kesadaran mereka sendiri) akan memperlakukan kita laiknya kita memperlakukan sapi dan simpanse.

Tujuan

Saya mengerti apa yang kini ada dibenak banyak orang setelah membaca ini bahwa di masa depan (jika ini terjadi) kemungkinan besar robot atau sistem (algoritma) akan mulai mengambil alih tugas kita, atau kemungkinan terburuknya: menendang kita sebagai simbol eksistensial dan makna hidup itu sendiri. Namun, menurut hemat saya, skenario pengambilalihan robot bukanlah yang paling menarik untuk dipikirkan. Memang benar bahwa seiring dengan majunya kecerdasan buatan, adalah perlu untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan itu akan terus melayani manusia dan bukan sebaliknya. Tapi ini adalah masalah teknis—yang boleh kita sebut sebagai masalah kontrol.

Terlepas dari itu, apa yang kini tengah saya pikirkan adalah tentang apa yang disebut dengan "tujuan". Singkatnya, bagi saya, kekhawatiran terbesar kita bukanlah robot pemberontak, namun kekurangan tujuan yang kelak mungkin terjadi seiring dengan masifnya perkembangan teknologi dan informasi kita. Krisis "tujuan" adalah masalah yang lebih fundamental dari dominasi AI di masa depan.

Saya memikirkan hal ini dengan berkaca pada kehidupan saya sendiri. Bahwa keluarga, orang tua, ideologi, dan lingkungan pertemanan memberikan tujuan pada hidup saya—bahwa saya musti menjadi anak, teman, dan warganegara yang baik.

Ambisi sains yang digambarkan oleh Harari mungkin terlihat seperti sebuah kado istimewa bahwa persoalan-persoalan manusia mulai dari kelaparan, penyakit, atau bahkan kematian di masa depan dapat dipecahkan. Tentu itu baik. Namun, jika dunia terus menjadi apa yang kita sebut "baik", lalu apa yang akan menjadi tujuan manusia selanjutnya? Tantangan apa yang akan membuat kita terinspirasi untuk menyelesaikannya? Saya telah menjelaskan sedikit tentang hal ini dalam esai saya yang berjudul "Epikuros dan Ambisi Sains: Antara Kebahagiaan dan Imortalitas".

Namun demikian, Harari memberikan penjelasan terbaik yang pernah saya lihat dalam menjelaskan masalah tujuan. Dia berhak mendapatkan pujian karena telah memberikan jawabannya. Dia menyarankan bahwa dengan motivasi untuk selalu menemukan tujuan baru, itu mengharuskan kita untuk mengembangkan agama atau fiksi yang baru pula.


Saya tidak bisa menjelaskan secara lebih terperinci mengenai hal ini, namun menilik pemikiran Harari tersebut membuat saya teringat dengan gagasan "Absurdisme" Albert Camus mengenai bagaimana manusia menaruh makna pada hidupnya; Adalah umum terjadi jika manusia mengarahkan hidupnya pada sebuah tujuan. Itu pasti. Namun, tujuan selalu bersifat relatif. Dengan kata lain, masa depan kita akan terus mendekatkan kita pada kematian. Inilah yang disebut Camus sebagai absurditas.

Olehnya, seperti Harari, Camus berpendapat bahwa untuk mengejar kebermaknaan hidup, kepercayaan atau agama adalah hal yang umum menjadi pilihan manusia. Namun menariknya, Camus menolak gagasan atau pilihan ini, sebaliknya, Harari justru positif menerima hal tersebut, meskipun mungkin terlepas dari rana agama yang eskatologis.

Namun sayangnya, saya tidak puas dengan jawaban Harari tentang tujuan. Di bagian akhir buku ini, Harari berbicara tentang agama yang ia sebut dengan Dataisme. Istilah ini pertamakali digunakan oleh David Brooks pada tahun 2013. Dalam pengertian facebook dan google mungkin lebih mengetahui siapa kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam. Dengan berlandaskan pada pemikiran bahwa manusia adalah sekumpulan algoritma/data, ia menyatakan bahwa dataisme mungkin akan menjadi kepercayaan baru manusia di mana kebaikan moral terbesar adalah dengan meningkatkan arus informasi atau datanya.

Begitu futuristik. Namun, menurut saya, ada beberapa masalah dalam kepercayaan atau ideologi baru ini. Pertama, dataisme akan menciptakan kesenjangan yang luas dalam struktur sosial. Karena teknologi mahal harganya, yang mana teknologi mahal tersebut hanya akan bisa dinikmati oleh golongan-golongan elit dan berkuasa saja yang pada dasarnya tidak mewakili manusia secara keseluruhan. 

Kedua, dataisme tidak dapat menjelaskan persoalan kesadaran. Selain tujuan, adanya dataisme juga membuat manusia mengalami krisis eksistensi. Kita akan menjadi begitu bergantung pada seberapa banyak data dan informasi yang kita miliki. Dataisme akan menjadikan kita sebagai hamba dari tuhan yang kaku dan nir kesadaran. Singkatnya, kita akan menjadi budak bagi sistem mati yang tidak memiliki kesadaran ciptaan kita sendiri. Tak perlu jauh-jauh melihat ke masa depan, di era informasi seperti sekarang ini pun kita sudah dapat melihat bagaimana data/algoritma menjadi ancaman bagi manusia. 

Ketiga, dataisme tidak begitu membantu dalam mengatur kehidupan masyarakat. Manusia memiliki kebutuhan sosial yang kompleks: nilai moral dan humanisme. Bahkan di dunia yang tanpa perang, kelaparan, atau penyakit, pun manusia tetap dapat saling menghargai, berinteraksi, dan peduli satu sama lain. Ini adalah keunikan mendasar manusia. Meskipun ini spekulatif, saya cenderung pesimis dataisme bisa menggantikan kepekaan kita atas realitas sosial seperti itu mengingat kesadaran merupakan hal yang terpisah dari kecerdasan.

Tentu banyak hal yang Harari jelaskan dalam 'Homo Deus', namun kira-kira itulah sedikit gambaran dasar yang ada dalam buku setebal 525 halaman ini. Dan perlu untuk digaris bawahi juga, Harari memberikan sebuah catatan penting bahwa: "Homo Deus bukanlah sebuah buku untuk menyampaikan kepastian atau ramalan, melainkan kemungkinan." Harari juga membuat perbandingan bahwa, "jika Sapiens menunjukkan dari mana kita berasal, maka Homo Deus menunjukkan ke mana kita akan pergi."

Olehnya, sulit membayangkan ada orang yang bisa membaca buku ini tanpa sesekali merasa jengkel. Nietzsche pernah menulis bahwa suatu saat "manusia akan berlayar di lautan luas, setelah mereka meninggalkan moralitas agama." Benar. 'Homo Deus' membuat kita seolah-olah sedang berdiri di ujung tebing tinggi setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Namun, nampaknya perjalanan itu menjadi tidak begitu penting lagi, karena kesadaran dan kemampuan kognitif sapiens akan terus menyongsong pemahamannya tentang dirinya dan dunianya ke arah yang sama sekali baru, dan kelak akan mengubah sapiens menjadi makhluk yang juga sama sekali baru: homo deus.
Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment