Loading...


AKU tahu
seharusnya,
aku tak bersikap seperti itu. 
aku sadar, siapa diriku! 
bahkan, sebelum semua ini, 
sebelum, berjumpa denganmu.
aku tengah berada di pojok dinding itu;
seorang diri nan putus asa.

dahulu, 
tuhan belum adil padaku! Lamun, 
aku tetap mencintai-Nya.
mana bisa aku membenci-Nya. 
tak bisa.

dia sang khalik, 
yang boleh menghendaki apa pun.
apalah daya diri ini yang hanya secuil bidak kecil 
dari jutaan bidak dalam lakon akbar-Nya.

aku selalu mengaku bahwa,
aku akrab dengan-Nya. mengelabui
semua orang, 
bahkan diriku sendiri. 
namun kala aku seorang diri, 
rasa ganjil itu semakin jelas. apa aku sungguh-sungguh akrab dengan-Nya?
tuhan, apakah engkau, seperti yang kupahami?

abaikan semua pertanyaan itu. yang kubutuhkan hanya dikau, tuhan.
manusia-manusia itu
tak bisa memahamiku.
mereka para durjana 
yang ingin membunuhku. 
hanya kau yang terus ada untukku.
 
jika aku tak berserah pada-Mu, bagaimana aku bisa menjalani hidup?

tuhan, 
apa pun yang kupikirkan, 
percayalah aku mencintai-Mu. 
Bahkan walau hati ini tak kunjung mengenal-Mu.

Sampai Kapan Aku Akan Menunggumu?

MENGAPA kau merintih dan memamerkan segala lukamu? 
sedang, 
kau pamerkan senyum termanismu dan terbahak-bahak bersama mereka.

kau mencurangiku demi melekaskan mereka. 
memintaku tuk mengalah 
atas nama kebahagiaanmu.

hei, apa diriku punya arti bagimu? 
bertahun lamanya aku menunggu. 
tapi kau terus berpura-pura 
tak menyadari kemarahanku. atau,
kau memang tak pernah peduli.

lagi dan lagi, 
kau menyadari keberadaanku hanya bila mereka meninggalkanmu. 
menunjukkan dirimu
seolah kau lah orang yang paling tersakiti di dunia.

aku muak,
aku muak dengan skenario 
yang terus berulang ini. 
aku tak ingin menunggumu lagi
juga, tak ingin mengalah lagi
lamun, air matamu, 
aku terlanjur melihat semua lukamu.

akhirnya, kuputuskan untuk tetap menunggumu 
dan mengalah demi kebahagiaanmu. 
tak tahu benar,
sampai kapan lagi aku harus menunggumu.
 

Punggungmu Sumber Kebahagiaanku

PUNGGUNG kecilmu
itu sudah yang 
menjadi penyejuk mataku. 
bak alarm yang membangunkanku: “ini waktunya bahagia!”

menyadari kau berada di dekatku;
semudah itulah kebahagiaanku. 
senyum manis 
dan tawamu 
terus menari riang di kepalaku.

pernahkah kau menduga, 
di luar sana (mungkin) ada 
seorang anak kecil yang sangat 
menghargai setiap hal remeh yang kau lakukan? 
menunggu ruang kelas kosong, hanya sekadar duduk di tempatmu duduk, 
menghafalkan semua hal tentangmu, 
merindukan, jua mendoakanmu setiap saat, 
bahkan tiga tahun itu, 
terasa penuh dengan bayang punggung kecilmu.

menyimpan nomormu,
lamun, tak berani menghubungi, 
berbicara,
walau tak berani menatap. 
aku tahu, 
aku bukanlah satu-satunya 
yang merasakannya. pun, aku jua tak bisa mengeluhkannya.

bukan salahmu juga,
jika kau tidak mencintaiku.
seperti aku,
yang hanya tertarik pada fisik indahmu. 
adalah wajar, bila kau 
hanya tertarik pada perempuan-perempuan cantik lainnya.
namun begitu,
punggung kecil itu,
akan selalu menjadi sumber kebahagiaanku.
 

Hiduplah dengan Topeng

MEREKA terus berusaha
untuk menerka wajahmu. 
biarpun mereka tahu 
kau memakai topeng yang amat tebal.
 
kendatipun dengan semua kisi-kisi 
yang kau berikan 
tentang dirimu 
mereka tetap saja 
takkan pernah berhasil.
 
mungkin mereka terlampau 
bodoh 
sehingga mereka percaya pada
semua ucapanmu 
laiknya kebenaran.

manusia waras mana, yang mau menunjukkan wajah aslinya 
kepada semua orang? 
bahkan orang sinting pun, jua memakai topengnya

katakan pada mereka! manusia-manusia itu
hanya sedang mencari 
perhatian dengan 
topeng-topeng diwajah mereka. 
usahlah mereka peduli pada wajah asli manusia-manusia itu. 
berbicaralah dengan topeng 
di wajah kalian. 
karena wujud paling buruk, pun sesungguhnya adalah topeng. 
mungkin kau sendiri tidak pernah melihat wajah aslimu. 
maka,
hiduplah dengan topeng.
 

Mimpiku Terlalu Nyata

AKU terbangun di pelukanmu lagi. 
mataku sembab 
karna mimpi buruk lagi. 
langit hari ini, pun dipenuhi warna jingga laiknya kemarin. 
kau menatapku 
dengan senyum manis di bibir mu;
 
"selamat datang kembali di rumah." ucapmu. 
kupeluk erat tubuhmu 
seolah kita lama tak bersua.
langit selalu jingga, dan kita selalu berada di atas jembatan.
aku benci tidur. aku ingin terjaga. selalu.
tidur membuatku kehilangan 
tiap detik yang berharga 
bersamamu. 
dan saat aku bermimpi, 
itu selalu berubah buruk;
di mana aku terbangun, 
di ruangan yang gelap dan kumuh.
 
teriakan dan tangisan 
terdengar jelas di balik pintu itu. 
aku menutup mata dan kedua telingaku. semua ini, ugh hanya mimpi buruk. aku,
akan segera terbangun. 
tolong cepatlah bangun!

"tik... tik...."
anehnya 
jarum jam di dalam mimpiku 
berbunyi dan 
waktu berjalan seolah dalam keadaan nyata. 
namun, kenapa di kenyataan, 
jarum jam itu selalu diam 
dan waktunya selalu senja?
mungkin mimpiku terlalu nyata.
Soraya Alamri , Jangan terlalu dipikirkan.

Lebih baru Lebih lama