Loading...


Sebelum saya berbicara mengenai judul di atas, alangkah baiknya kita memikirkan kembali mengenai defenisi kita tentang 'kepedulian'.

Bagi beberapa orang, ada yang mengatakan bahwa rasa peduli adalah hal yang didasari atas empati. Empati, dalam pengertian ini, ialah saat di mana manusia melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Rasa peduli bergerak lebih jauh dengan memikirkan apa yang menjadi kebutuhan orang lain, dan juga dengan memikirkan tindakan nyata apa yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun demikian, bagi saya rasa peduli itu selalu didasari atas kecemasan manusia terhadap diri mereka sendiri—apabila tidak melakukannya. Sigmund Freud, salah seorang psikoanalisis—pun memiliki teori bahwa manusia selalu dikendalikan oleh kecemasan yang dikelola—oleh suatu entitas yang disebut ego—semata-mata sekadar untuk memenuhi tuntutan Id atau super-ego.

Jadi, pada dasarnya sikap peduli kita digerakkan oleh sisi kecemasan kita sendiri. Jika kecemasan kita tidak ada, maka kita tidak akan mau bergerak untuk peduli pada orang lain.

Kecemasan ini bisa muncul dalam berbagai bentuknya, diantaranya: Pertama, kecemasan mengenai apakah seseorang harus memenuhi kebutuhannya saat itu juga (kecemasan neurotik); Kedua, kecemasan mengenai apakah seseorang itu melakukan suatu kesalahan etis (kecemasan moral); Dan ketiga, kecemasan mengenai peristiwa-peristiwa yang mengancam seseorang (kecemasan realistik). 

Menilik dari kecemasan-kecemasan tersebut, adalah lazim apabila seseorang memunculkan insting untuk bertahan dalam menghadapi kecemasan-kecemasan tersebut. Oleh Freud menyebutnya sebagai defense mechanism (mekanisme pertahanan).

Mungkin, kita semua tanpa dipungkiri acap kali berkoar-koar tentang sifat altruisme, seperti memedulikan orang lain atau peduli pada lingkungan. Bagi saya, sikap menohok semacam ini tak lebih dari sekadar omong kosong belaka.
 
Menurut hemat saya, semua narasi altruisme yang kerap kita lontarkan seperti itu - adalah, maaf, fuck semata—yang alih-alih didasarkan pada keikhlasan, kepedulian seseorang kepada lingkungan dan/atau orang lain hanyalah kepedulian yang didasarkan pada diri sendiri (egoistik).
 
Biar lebih mudah dipahami, saya berikan satu contoh. Ketika kita menyelamatkan seseorang yang dalam bahaya, hal pertama yang kita rasakan adalah sikap narsistik—seperti perasaan ingin diakui sebagai penyelamat. Sebaliknya, ketika kita mengabaikan orang tersebut, pasti ada rasa menyesal dan ketidak nyamanan yang muncul dalam diri kita—semuanya kita lakukan tidak lebih dari sekadar hanya untuk memenuhi ego kita sendiri. Karena rasa cemas dan berbangga diri adalah tuntutan dari ego kita.

Ini dikarenakan semua kepedulian kita pada alam sekitar maupun orang lain itu hadir hanya untuk memuaskan dirinya sendiri, yang dilandasi atas kecemasan pribadi.

Jika kita tidak memiliki dorongan kecemasan pasti kita tidak akan—peduli. Kita tidak akan peduli—tanpa di dasari oleh rasa cemas di dalam diri kita sendiri. Karena sepintar-pintarnya kita melihat sudut pandang orang yang menderita, kita tidak akan bisa tergerak untuk peduli tanpa adanya sebuah kecemasan.

Maka adalah suatu kebohongan apabila ada yang mengatakan kepada kekasihnya “saya lebih memedulikanmu, daripada diriku sendiri," padahal mengapa ia mengatakan seperti itu hanyalah demi menentramkan atau memuaskan dirinya sendiri sembari agar ia dapat membuat pasangannya terpesona.
 
Hanya manusia munafik saja yang berpegang pada paham altruisme semacam itu. Mereka melakukan itu hanya demi memuaskan ego mereka dan agar menafikkan perasaan bersalahnya saja. Karena menurut hemat saya, sebagian besar manusia digerakkan oleh perasaannya—rasa nyaman atau tidak nyamannya, selebihnya hanyalah sekadar pemaksaan kehendak.

Hal ini juga sama seperti apa yang sering dilakukan oleh seorang motivator. Acap kali para motivator-motivator ini mengatakan: "keluarlah dari zona nyaman.” Bagi saya itu adalah advis terkotor yang pernah saya dengar. Sejatinya, mengapa mereka melontarkan ucapan seperti itu adalah hanya demi kenyamanan diri mereka sendiri. 

Para motivator itu sebenarnya tengah berusaha untuk mencari hal yang mereka anggap nyaman bagi diri mereka—mungkin dengan memperkaya diri dengan petuah-petuah usang mereka. Ia menjadi motivator bukan untuk Anda atau membimbing Anda menjadi lebih baik—juga bukan untuk yang lain, tetapi hanya untuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa kita dimintai oleh mereka untuk keluar dari 'zona nyaman' sementara mereka sendiri hidup anyem di zona nyamannya?

Terakhir, olehnya bagi saya, rasa kepedulian kita, baik kepada orang lain ataupun lingkungan kita, itu tak lebih dari sekadar hanya untuk diri kita sendiri; Demi memuaskan diri atau demi menghindarkan diri kita dari perasaan bersalah atau rasa cemas, bukan untuk orang lain. Selalu ada pamrih yang egosentris di dalam kepedulian kita. Itu adalah hal wajar karena hal tersebut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan kita. Dan salah satu dari mekanisme pertahanan itu adalah apa yang disebut dengan "represi", yaitu perasaan yang secara tidak sadar menekan atau mencoba menghilangkan sesuatu yang menyebabkan kecemasan. So caring for the environment is just an action so that there is no anxiety stored in oneself, not as an act of heroism.

Muhammad Rasyid Ridho Djupanda, Mahasiswa IAIN Palu


Lebih baru Lebih lama