Loading...


Saya percaya bahwa bagian terpenting untuk menjadi manusia yang otentik adalah dengan menanyakan hal-hal seperti "mengapa kita ada di sini," "apa tujuan dari keberadaan kita," "dan bagaimana memahami kehidupan serta dunia di sekitar kita." 

Filsafat mengeksplorasi dan terkadang mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menyesuaikan pandangan dunia kita. Mengingat filsafat adalah disiplin ilmu yang sudah berusia selama ribuan (atau mungkin jutaan) tahun, mungkin sulit bagi kebanyakan orang yang baru mengenal filsafat untuk mengetahui di mana atau bagaimana harus memulai mempelajari filsafat—dan bahkan, lebih sulit lagi apabila kita mempersempit disiplin ini ke dalam daftar buku-buku yang boleh dikata masih terbatas. 

Dalam tulisan kali ini, saya akan merekomendasikan kepada teman-teman (yang baru atau ingin belajar filsafat) 5 buku filsafat yang saya kira baik untuk menjadi pegangan awal memulai mempelajari filsafat, bersama dengan konsep yang dicakupnya masing-masing. Dengan begitu, jika kalian baru mulai belajar filsafat, kalian dapat dengan mudah menemukan apa yang kalian cari. 

1. Dunia Sophie karya Jostein Gaarder

Saya yakin benar kebanyakan kita sudah tahu dengan buku ini, atau paling tidak pernah mendengarnya. Buku karangan Jostein Gaarder ini pernah menjadi buku terlaris di Norwegia dan sudah memenangkan "Deutscher Jugendliteraturpreis" (sejenis penghargaan untuk buku sastra anak-anak di Jerman) pada tahun 1994. 

Berbeda dari buku-buku filsafat pada umumnya, untuk menjelaskan filsafat, Jostein Gaarder memperkenalkan gagasan-gagasan filsafat yang paling kuno hingga modern dalam bentuk novela. Gaya penceritaan yang mudah dipahami, renyah, dan dramatis menjadi keunggulan utama buku ini. 

2. Filosofi Teras karya Henry Manampiring

Apakah kalian sering marah-marah tidak jelas? Kecewa, atau stres? Mungkin buku ini adalah rekomendasi yang pas untuk kalian yang sering mengalami emosi negatif seperti itu. 

Filosofis Teras merupakan buku yang menggambarkan dan menjelaskan bagaimana mengaplikasikan cara hidup yang positif salah satu mazhab filsafat kuno dalam filsafat, Stoikisme, ke dalam kehidupan sehari-hari. 

Nama Filosofi Teras sendiri diambil dari nama Stoa/Stoikisme. Stoikisme didirikan oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Stoik dalam bahasa Yunani berarti beranda, serambi, atau teras. Nama ini diberikan karena dahulu orang-orang Stoa sering berkumpul di beranda. Henry Manampiring menggunakan nama "Filosofi Teras" agar dapat menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia. 

Jadi, jika teman-teman termasuk orang yang baru mulai belajar filsafat dan ingin mempraktikkannya sekaligus, buku ini mungkin bisa menjadi pilihan pertama bagi kalian. Lebih-lebih bagi mereka yang memiliki masalah-masalah psikis atau emosi, seperti stres, depresi, dan lain sebagainya. 

3. Filsafat untuk Pemula karya Richard Osborne

Filsafat? Mengapa sehigga sebagian orang, menganggap filsafat sebagai subjek keilmuwan yang membuat pusing kepala, sementara untuk sebagian lain justru menganggap filsafat sebagai topik yang mengasyikkan, dan untuk beberapa kalangan dianggap sebagai ilmu yang subversif dan berbahaya? Banyak orang bahkan menilai filsafat tak ada gunanya! Lalu, sebenarnya apa itu filsafat? 

Richard Osborne mencoba untuk menjelaskan hal-hal tersebut ke dalam buku "Filsafat untuk Pemula" ini dengan unik, luwes, dan dapat mengantarkan siapa pun yang merasa awam drngan filsafat ke pintu masuk dunia filsafat. 

4. Everyday Ubuntu: Living Better Together, The African Way karya Mungi Ngomane

Ubuntu, ini mungkin istilah yang masih asing di telinga, bahkan bagi mahasiswa filsafat sekalipun. Ubuntu merupakan salah satu filosofi dalam tradisi etika filsafat di Afrika Selatan yang percaya bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki ikatan batin yang sama. 

Tulisan Mungi ini menekankan pentingnya melihat kemanusiaan dalam diri orang lain dan memperlakukan orang lain dengan kasih sayang. Dalam buku ini, Mungi Ngomane memberikan 14 pelajaran penting untuk membantu orang lain mempraktikkan filsafat Ubuntu dalam kehidupan sehari-hari. Persis seperti buku "Filosofi Teras" di atas. Tujuan utamanya ialah: bekerja bersama dan mengenali nilai utama di dalam diri setiap orang. 

5. Zen Mind, Beginner's Mind: Informal Talk on Zen Meditation and Practice karya Shunryu Suzuki

"Dalam pikiran seorang pemula, ada banyak kemungkinan. Namun dalam pikiran seorang ahli, hanya ada sedikit."

Itulah kira-kira sedikit kutipan yang dapat menjadi pembuka yang pas untuk menggambarkan buku ini. "Zen Mind, Beginner's Mind" sudah menjadi salah satu buku klasik spiritual modern yang paling laris, paling diminati, dan direkomendasikan sebagai buku pertama untuk pemula yang baru mengenal filsafat Zen. 

Buku ini menawarkan banyak ide-ide mendasar tentang konsep Buddha Zen; suatu bentuk meditasi. Ia mengajak kita untuk menyelami pentingnya elemen fisik dalam meditasi, seperti postur dan pernapasan, serta aspek metafisik seperti kebebasan dari keterikatan. Cukup ringkas, praktis, dan menyentuh. "Zen Mind, Beginner's Mind" ditulis dengan baik dan cukup ringan untuk mereka yang baru mengenal filsafat Buddha Zen.

Lebih baru Lebih lama