Loading...

Dari semua buku Richard Dawkins yang telah kami baca, barangkali buku inilah yang paling mudah dipahami dan diresapi isinya. Paling tidak buku ini tak serumit dengan buku-buku awal Richard Dawkins seperti The Selfish Gene, juga tidak seradikal Blind Watchmaker dan The God Delusion. 

Sihir Realitas (The Magic of Reality) adalah buku sederhana yang sepertinya dibuat sebagai guidance dalam memahami buku-buku Dawkins selanjutnya. Isi bukunya juga bergambar - guna membantu pembaca untuk memahami alur narasinya. Mungkin buku ini dibuat untuk para newbie yang ingin memahami pemikiran seorang Richard Dawkins.

Sepanjang tahun 1999, saya pernah sangat menyukai dan sering mengikuti sebuah acara yang sering diputar di salah satu TV swasta yang berjudul Breaking The Magician's Code: Biggest Secret Finally Reavealed. Isinya tentang seorang  pesulap "murtad" yang tampil bukan lagi sebagai seorang pesulap, namun sebagai anti sulap. Alih-alih menggugah penonton dengan aksi sulapnya, pesulap murtad ini muncul dengan topengnya justru memberikan performance yang mengungkap rahasia pesulap-pesulap lain. 

Sepeti yang kita tahu bahwa keindahan dari sebuah pertunjukan sulap terletak pada kerahasiaan triknya. Namun itu akan berbeda jika rahasia trik tersebut terungkap; pertunjukan sulap tidak lagi menjadi menarik. Konon gegara film dokumenter inilah mengapa banyak pesulap-pesulap besar seperti David Coppervield, Lance Burton, dan bahkan Dedy Corbuzier rela gulung tikar dan pindah profesi, sebab sudah kehilangan daya magicnya.

Nah, buku Sihir Realitas karya Richard Dawkins ini mirip seperti film yang saya ceritakan di atas. Buku ini mengungkap dan membandingkan antara mitos dan fakta, antara sihir dan realitas. 

Dengan gaya provokatif, Dawkins menceritakan detail-detail fakta yang menggugah. Setiap lembar dalam buku ini membuat kita terkesima dengan pertanyaan dan penjelasannya yang mendalam seperti: apa itu realitas? Apa itu sihir? Bagaimana cara membanding informasi dari mitos vis avis sains tentang siapakah manusia pertama? Bagaimana kehidupan itu bermula? Mengapa banyak sekali hewan? Apa itu matahari? Pelangi? Bencana? Adakah kehidupan selain di bumi? Apakah alien itu ada? Dan lain sebagainya. Dawkins secara provokatif mengajukan berbagai data berbasis sains empirik dengan membolak-balikkan apa yang, secara umum, diyakini oleh kebanyakan kita. 

Selama jutaan tahun, manusia terus mencoba untuk menjawab banyak hal. Setiap fenomena yang ditangkap oleh inderawi pun diretas dengan logika dan rasionalisasi pengetahuan yang sesuai pada jamannya. Namun, jawaban atas fenomena-fenomena itu sering kali hadir tanpa pembuktian yang memadai, sehingga basis jawaban atas fenomena itu adalah 'keyakinan' bukan 'pengetahuan'.

Inilah mengapa, sering kali, umat manusia bertumbuh dan membentuk kebudayaan yang didasarkan atas keyakinan pada fenomena alam yang bisa inderai. Ketika mereka melihat matahari bersinar dan menjadi terang mereka menyembah matahari, dan ketika mereka melihat gunung meletus yang mengakibatkan kesengsaraan, mereka menyembah gunungnya. 

Selain itu, setiap keyakinan juga selalu dibumbui cerita-cerita mistis dan imaginatif yang menjadi penguat atas keyakinan mereka; dari cerita ke mitos, dan dari mitos kemudian menjadi agama dengan seperangkat sistem pengetahuannya. Dan sebagaimana spesies yang berevolusi, sistem keyakinan ini pun berevolusi, dari animisme ke politeisme, lalu ke monoteisme agama.

Ada sebuah cerita dalam buku ini yang menarik sekaligus dapat kita jadikan sebagai contoh, yakni apa yang kita sebut dengan "ketindihan setan". Hal yang seringkali kita ceritakan - di mana ketika kita tidur di suatu tempat dan mengalami kondisi tidak dapat berbicara atau bergerak meskipun sudah terjaga. Kita kerap menyebut kondisi ini sebagai "ketindihan". Olehnya, saat kita mengalami kejadian semacam ini, maka sontak kita membuat konklusi bahwa tempat di mana kita tidur tersebut ditempati oleh arwah jahat, jin yang tidak ingin terganggu, atau jin yang ngebet ingin berhubungan seksual. 

Padahal faktanya, tidak seperti itu. Para ahli biologi dan pakar tidur memahami fenomena ini sebagai kondisi yang dikenal sebagai "sleep paralysis". Kondisi ini bisa dijelaskan dari perpektif evolusi, bahwa semenjak manusia memiliki kesadaran dan imaginasi, manusia bisa bermimpi. Namun naasnya di waktu-waktu awal evolusi, mimpi mampu menggerakkan struktur otot dan tulang manusia meskipun dalam keadaan tertidur. Itulah mengapa otak secara tidak sadar menciptakan kondisi yang disebut dengan sleep paralysis di mana seluruh struktur otot dan tulang dilumpuhkan. Hal ini berguna agar sapiens tidak berjalan, berlari, dan/atau beraktifitas sesuai dengan keadaan di dalam mimpinya. Nah, terkadang kondisi inilah yang dialami manusia. Inilah penjelasan ilmiah dari apa yang kita sebut dengan "ketindihan".

Itulah salah satu cerita yang akan mewarnai perjalanan kita ketika membaca buku ini. Richard Dawkins laiknya menjelma menjadi pesulap murtad yang membongkar mitos-mitos, takhayul, dan sihir-sihir yang diyakini sepanjang sejarah manusia. Lewat kemajuan sains dan ilmu pengetahuan, Dawkins memaparkan beragam fakta tentang apa yang sebenarnya terjadi dan menjawab setiap fenomena-fenomena yang dulunya hanya dirasionalisasi ala kadarnya oleh intelektual di masa lalu. 

Menariknya, di buku ini Dawkins mencoba untuk membabat habis setiap mitos dan keyakinan dari semua kebudayaan yang ada di dunia, mulai dari mitos Gilgames di Sumeria, mitos Musa dari Ibrani, Sungai Gangga, hingga puncak Amazon dalam kebudayan orang-orang Inca. Namun hal lain yang tidak kalah menariknya adalah, saya sangat mengapresiasi E-Perpustakaan Nasional (iPusnas) yang sudah menyediakan buku ini secara gratis dalam bentuk ebook.

Sukmayadi Maeruddin Sosial Interpreneur dan Konsultan politik. Alumni Universitas Hasanuddin Makassar

Lebih baru Lebih lama