Loading...

Tasawuf Martabat Tujuh: Menemukan Tauhid dalam Agama-Agama Lain

Dulu, dulu sekali. Berkaca pada pengalaman saya sendiri, saya pernah mempunyai “keyakinan” kalau umat beragama lain (di luar agama saya) itu adalah orang-orang yang ber-IQ jongkok karena menyembah dan menuhankan benda-benda seperti patung.

Apakah nalar sehat mereka itu di-hack permanen oleh setan, atau apakah Tuhan memang sebegitu lucunya sehingga membuat dagelan dengan menciptakan orang-orang bodoh di luar keyakinan agama saya itu? Bahkan mereka tidak menyembah satu patung atau satu batu berhala yang dijadikan kiblat tunggal, melainkan menyembah dan menghormat pada banyak patung.

Jadi begitulah pikiran saya saat itu, bahwa kebodohan umat agama lain memang berlapis-lapis dan akut; Selain meyakini jika Tuhan itu berwujud patung dengan seni indah yang mereka ciptakan sendiri, mereka juga meyakini bahwa Tuhan itu sangat banyak, bukan Tunggal, bukan Esa seperti dalam Pancasila yang merupakan falsafah negeri ini.

Namun, apakah faktanya memang seperti itu? Apakah benar umat beragama lain itu adalah orang-orang dengan nalar primitif yang menyembah dan menuhankan patung, sehingga perlu dicerahkan kejahiliyahannya? Apakah benar ajaran agama-agama lain itu tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila dan maka dari itu patut diusir dari negeri ini?

Ternyata oh ternyata! Semua itu hanya iman jahat dan kegoblokan radikal saya sendiri; Sebuah kebodohan polos yang sangat memalukan.

Setelah mempelajari pemikiran Psikologi Perkembangan Jean Jacques Rousseau (yang selanjutnya - mempengaruhi ajaran spiritual Jiddu Krishnamurti dan Osho), akhirnya saya tahu kalau semua keyakinan jahat nan bodoh itu sesungguhnya tidak berakar dari kesadaran primordial atau kesadaran alamiah saya, melainkan berawal dari “pengondisian” racun pemikiran ngawur yang dijejalkan oleh masyarakat dan lingkungan sosial di mana saya berada.

Maka wajar jika dulu saya merasa begitu pede dan jumawa dengan kebodohan saya dalam memandang umat agama lain. Sehingga tanpa mempelajari ajaran dasar agama mereka, pun saya sudah merasa paling mengerti dan paling tahu ajaran dan seluk-beluk kesesatan mereka. Bahkan saya pikir dulu saya tidak hanya terjangkiti iman yang bodoh saja namun juga terjangkiti iman yang penuh kedurhakaan.

Bagaimana tidak, dulu saya bukan hanya “menyakini” jika agama-agama produk impor lain penuh kebodohan, bahkan saya juga “menyakini” jika spiritual asli yang lahir di negeri ini juga penuh kebodohan, di mana para leluhur saya anggap begitu bodoh karena tidak tahu mengenai hal sepele tentang keesaan Tuhan, sehingga perlu diberitahu oleh bangsa dari negeri lain.

Saya juga sempat berpikir, begitu bodohnya leluhur kita memuja dengan penuh sembah pada pohon-pohon, punden, gunung, laut, dan bahkan orangtua sendiri dengan tradisi sungkem. Jadi apakah leluhur kita nalarnya juga “pingsan” sebagaimana penganut agama-agama impor lain di luar agama saya?

Begitulah saya, terus bertanya dan bertanya, berpikir dan berpikir, menelisik dan menelisik, dan tentu tidak ketinggalan terus membaca dan membaca dari beragam sudut pandang yang lain. Dari situlah akhirnya saya banyak mendapatkan kejanggalan demi kejanggalan yang menghantam kepala saya.

Jika memang umat-umat agama lain itu benar-benar ber-IQ jongkok, namun mengapa kok malah umat mereka yang banyak menemukan temuan-temuan saintifik yang berguna bagi kemanusiaan secara universal? Jika memang leluhur bangsa ini dulu adalah orang-orang bodoh tak bernalar yang menyembah berhala, lalu mengapa bangsa ini bisa menghasilkan banyak candi megah seperti Borobudur dan Prambanan, bukankah pembuatan candi semegah itu memerlukan hitungan matematis dari nalar yang logis? Juga bahkan pembuatan Keris, Batik, ilmu seni tari dan pencak silat, mustahil semua itu bisa diciptakan oleh orang yang ber-IQ jongkok. Jika leluhur kita ber-IQ jongkok, mungkin mereka hanya bisa membuat kain selubung wajah dan daster kedodoran yang tidak punya nilai estetis sama sekali!

Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan tersebutlah kemudian saya secara intensif mempelajari keimanan agama-agama lain, juga tidak ketinggalan ajaran spiritual asli yang lahir di negeri ini. Semua itu saya lakukan semata-mata demi mendapatkan jawaban, apakah agama lain yang ada di negeri ini dan spiritualitas asli leluhur itu merupakan ajaran yang bodoh atau bukan.

Ajaran Leluhur dan Buddha dalam Martabat Tujuh

Sejauh pemahaman saya selama ini, yang paling tinggi dalam ajaran Islam itu adalah Tasawuf, dan yang paling tinggi (yang seringkali menjadi pengetahuan yang dirahasiakan) dalam ajaran Tasawuf itu adalah ajaran Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawulo Gusti) yang salah satunya terekam dalam konsep ajaran Martabat Tujuh.

Jika dalam Tasawuf kita masih berbicara soal isi kitab Ihya karangan Al-Ghazali atau kitab Al-Hikam dari Ibn Atha’illah yang berisi terapi psikologis dan renungan-renungan syar’i, maka ya ‘nuwun sewu’, harus saya katakan, jika ajaran semacam itu belum termasuk wejangan Tasawuf tingkat tinggi sebagaimana yang diajarkan oleh Ibn Arabi, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Kalijaga yang mana menjadi basis spiritual keraton-keraton Jawa pasca Majapahit.

Ajaran Martabat Tujuh yang merupakan kristalisasi Tasawuf Ibn Arabi tersebut adalah wejangan ketuhanan yang menjelaskan bagaimana asal-muasal kejadian makhluk. Martabat Tujuh itu meliputi:

  1. Martabat Ahadiyah: Tuhan dalam Dzat mutlak-Nya yang tak bisa digambarkan, tak bernama, dan tak bersifat.
  2. Martabat Wahdah: Tuhan dalam kemilau Cahaya Kemuliaan (Nur Muhammad) yang telah turun kelas dari Dzat mutlak-Nya.
  3. Martabat Wahidiyah: Tuhan dalam kemilau Cahaya Kemuliaan yang turun kelas sehingga mempunyai Asma (Nama), Sifat, dan Af’al (Perbuatan).
  4. Alam Arwah: Tuhan yang turun kelas lagi dengan bermanifestasi menjadi arwah atau ruh-ruh manusia.
  5. Alam Mitsal: Nafs atau badan halus manusia yang merupakan turunan dari ruh.
  6. Alam Ajsam: Kristalisasi budi atau kesadaran yang merupakan unsur terpenting dari Nafs.
  7. Alam Insan Kamil: Manusia yang telah terhijab atau terlingkupi sempurna dengan tubuh fisik atau raga.

Beranjak dari ajaran Tasawuf Martabat Tujuh di atas lah, akhirnya saya melihat agama-agama lain dan spiritualitas asli leluhur dengan lebih objektif dan bijak.

Pertama, mengenai spiritualitas ajaran leluhur: Apakah mereka benar-benar menyembah dan menuhankan unsur-unsur alam sebagaimana yang dituduhkan selama ini?

Kenyataannya tidak!

Mereka malah bertuhan pada Tuhan yang berada pada martabatnya yang tertinggi yaitu Martabat Ahadiyah yang tak bisa digambarkan dan diungkapkan lewat kata-kata. Itulah mengapa di ajaran spiritual Jawa asli tidak pernah ada ritual penyembahan terhadap Tuhan. Lha wong Tuhan kan bukan Makhluk. Bagaimana bisa ada ritual sembah sujud kepada sesuatu yang di luar Wujud?

Nah, untuk itulah sembahyangnya spiritual Jawa asli adalah dengan sedekap tapa hening, karena toh Sang Suwung atau Tuhan dalam Martabat Ahadiyah hanya bisa dijumpai dengan kejernihan batin, bukan dengan ritual gerakan tubuh atau serangkaian puja-puji.

Kalau seperti itu, lantas mengapa spiritual asli Jawa juga memberi sembah hormat terhadap sungai, pohon, gunung, laut, dan bahkan orang tua?

Semua itu tidak lain dimaksudkan untuk menciptakan tata kehidupan yang harmonis yang saling berendah hati untuk menghormati sesama saudara semesta. Dan tentu mereka sadar sepenuhnya, jika Sang Suwung takkan pernah salah paham dan mempersalahkan mereka, toh bagi spiritual asli Jawa yang semestinya diberi sembah hormat itu adalah manusia (terutama Ibu dan Guru) dan saudara se-semesta yang lain (unsur-unsur alam). Sementara Tuhan, Dia bukan untuk diberi “sembah hormat” melainkan “dijumpai” secara intensif dalam keheningan.

Jadi jika masih ada yang bilang orang Jawa dulu sebelum Islam itu tidak mengenal Tauhid, maka akan kuteriaki di kuping mereka: "Orang Jawa pra-Islam tidak kenal Tauhid matamu!" Bahkan tauhid mereka itu jauh lebih murni karena langsung mengimani Tuhan dalam Dzat Mutlak-Nya atau dalam Martabat Ahadiyah.

Sama halnya dengan ajaran Buddha yang juga masuk ke negeri ini. Jangan dikira mereka menyembah berhala sebagaimana persangkaan dogmatis kebanyakan orang. Umat Buddha sebagaimana spiritual asli Jawa, Tauhid mereka juga langsung berkiblat pada Martabat Ahadiyah atau Sang Suwung yang tak terpikirkan dan tak terucapakan.

Olehnya mengapa, ibadah utama mereka juga adalah meditasi/tapa bukan ritual fisik dan puja-puji. Bahkan menurut saya, umat Buddha ini lebih ekstrim Tauhidnya, sebab mereka tidak pernah membicarakan Tuhan yang sesungguhnya, karena memang seharusnya Tuhan tak dapat dibicarakan lewat kata-kata.

Mungkin ada yang masih bertanya: Tapi kok umat Buddha juga bersujud pada patung Buddha sebagaimana sujudnya orang Muslim ketika sholat?

Itu hanya bentuk tradisi sungkem untuk menghormati guru yang berasal dari kebudayaan India. Bagi umat Buddha, Sang Buddha tidak lain dan tidak bukan hanyalah Guru. Dia bukan dewa pencipta atau Tuhan. Dan dalam tradisi India, menghormati guru, kakak, dan orang tua adalah keharusan, dan penghormatan itu dapat dilakukan dengan tiga macam cara: Menyentuh kaki, berjalan memutari orangnya, atau bersujud.

Nah, jadi jika melihat umat Buddha yang sedang bersujud pada patung Buddha, itu tidak lain adalah bagian dari tradisi ketakziman pada guru agung yang sudah meninggal. Tidak lebih. Hal ini bisa disamakan dengan para santri NU yang memiliki tradisi berjalan jongkok dan cium tangan kepada para kyai, dan bahkan di rumah mereka juga banyak terpampang foto/gambar dari kyai-kyai yang menjadi guru mereka.

Hindu

Mengenai Hindu, mungkin ada yang bertanya, apakah umat Hindu itu penyembah berhala dan tidak tahu tentang keesaan Tuhan atau Tauhid?

Perlu digaris bawahi bahwa Hindu itu cabangnya sangat beragam, namun secara garis besar bisa dibagi dua yaitu: Mereka yang bertuhan pada Saguna Brahman dan mereka yang bertuhan pada Nirguna Brahman.

Dalam perspektif ajaran Tasawuf Martabat Tujuh, mereka yang mengimani Saguna Brahman (Tuhan Yang Bersifat) itu bisa dikatakan mengimani Tuhan dalam Martabat Wahidiyah (Tuhan yang mempunyai Asmaul Husna, Sifat, dan Af’al). Nah, sementara mereka yang mengimani Nirguna Brahman (Tuhan Yang Tidak Bersifat dan Tidak Bisa Digambarkan) itu sama persis dengan mengimani Tuhan Dzat Mutlak dalam Martabat Ahadiyah.

Umat Hindu yang mengimani Saguna Brahman biasanya mempunyai devosi atau ibadah pemujaan terhadap dewa-dewi dengan segenap ritual dan mantra, hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan umat Islam yang suka bersholawat dan mewiridkan bacaan asmaul husna tertentu. Sedangkan umat Hindu yang mengimani Nirguna Brahman, biasanya juga tidak berdevosi pada dewa-dewi tertentu, mereka lebih suka berkiblat/bersamadhi langsung kepada Sanghyang Acintya, Tuhan Mutlak Tak tergambarkan.

Dalam konteks Tasawuf, hal ini juga tidak jauh berbeda dengan penekun suluk yang menjalani meditasi dzikir nafas untuk bisa memakrifati (mengenali) Tuhan dalam martabat mutlak-Nya (Ahadiyah).

Jadi sampai di sini, jika masih ada yang beranggapan sebelum kedatangan Wali Songo peradaban Majapahit adalah peradaban yang tidak mengenal Tauhid atau keesaan Tuhan, maka satu hal yang perlu sampean tahu, bahwa lakon wayang Dewa Ruci yang penuh wejangan Tauhid yang dianggit Sunan Kalijaga itu tidak lain hanyalah modifikasi dari lakon Nawaruci yang dianggit oleh Mpu Siwa Murti pada masa Jawa pra-Islam. Bahkan muatan isinya pun juga sama persis. Sunan Kalijaga hanya menerjemahkannya sesuai terminologi Islam.

Jadi jangan kira, sebelum kedatangan Wali Songo orang-orang Nusantara dahulu tidak mengenal Tauhid, tidak mengenal makrifat, atau tidak mengenal Sangkan Paraning Dumadi. Orang Jawa dahulu, tanpa Islam pun, sungguh sudah sangat fasih dan tahu benar tentang semua pemahaman semacam itu, termasuk Tauhid.

Kristen

Ini yang terakhir dan mungkin agak sensitif: Apakah saudara kita, umat Kristen, menyembah berhala atau Tiga Tuhan?

Sekali lagi saya ingin menggunakan perspektif dari ajaran Martabat Tujuh. Bahwa sesungguhnya anggapan umat Kristen menyembah Tiga Tuhan dan maka dari itu tidak patut dimasukkan dalam konteks agama monoteisme itu sesungguhnya adalah kesimpulan gegabah yang tidak memahami pengajaran ketuhanan dan jalan rohani dari Kristen.

Sesunggunhya Trinitas Kristen itu tidak lain hanyalah penempatan posisi ketuhanan dalam Martabat Ahadiyah (Allah Bapa Yang Mutlak Tak tergambarkan), Martabat Wahdah/Nur Muhammad (Allah Putra), Martabat Alam Arwah/Rasulullah/Utusan Allah (Roh Kudus).

Jadi Allah Bapa, Allah Putra, dan Roh Kudus itu bukan Tiga Tuhan melainkan sama seperti pemahaman Tasawuf mengenai “tiga kesatuan tunggal” antara Allah, Muhammad, dan Rasulullah atau Allah, Muhammad, dan Adam sebagaimana dalam wejangan simbolik iwak telu sirah sanunggal dari Tarekat Syattariyah.

Jadi jika hari ini masih ada yang beranggapan bahwa umat Kristen itu menyembah Tiga Tuhan, jika nalar culun seperti itu dipakai, maka para penghayat ajaran Tasawuf Martabat Tujuh itu pun juga bisa dikatakan menyembah Tujuh Tuhan. Sebab dalam ajaran Martabat Tujuh, Tuhan itu bertajalli atau bermanifestasi dalam Tujuh lapis martabat. Sedangkan dalam pemahaman teologi Kristen juga sama seperti itu: Tuhan berinkarnasi atau bermanifestasi dalam tiga derajat atau tiga martabat.

Jadi saya kira jelas bahwa Kristen itu juga mengenal Tauhid sebagaimana Hindu, Buddha, dan Spiritual Jawa. Selain itu, sebagaimana Hindu, Buddha, dan Spiritual Jawa yang memberi hormat pada ikon-ikon bendawi bukan dalam rangka menyembahnya sebagai Dzat Tuhan Yang Mutlak (Ahadiyah), umat Kristen (Katolik) memberi puja hormat pada patung Yesus, Bunda Maria, Santo-Santa juga hanya sebagai kiblat washilah atau perantara spiritual semata, tidak jauh berbeda dengan para santri NU yang hobi ziarah kubur para wali, melakukan doa barzanji, manaqib, dan tawassul.

Sebab sesungguhnya semua agama itu tidak terlepas dari pemberian hormat dan sakralitas akan sesuatu hal yang bisa memicu munculnya semangat spiritual. Imaji pendukung ikonoklasme (kaum puritan perusak patung, makam, relik, lukisan, dan citra-citra religius) sebagaimana yang dianut Wahabisme (dalam konteks Islam) pada akhirnya akan menemui kebuntuan dan utopia. Sebab sesungguhnya yang lebih berbahaya itu bukan kultus-kultus bendawi, namun kultus pemberhalaan terhadap pemikiran, ide, dan ajaran yang merasa dirinya paling benar.

Sekian.

Salam Rahayu dan Salam Perdamaiaan untuk saudaraku dari segala iman keagamaan.

Alvian FachrurroziAnak tani.

Lebih baru Lebih lama