Loading...

Ungkapan "Tubuhku, Pilihanku" umumnya dikenal sebagai slogan yang biasa digunakan untuk membenarkan aborsi. Slogan ini merangkum gagasan bahwa wanita memiliki hak otonomi atas tubuh mereka, jadi terserah mereka mau melakukan aborsi (atau tidak). Namun sejak adanya COVID-19, frasa tersebut memiliki makna baru: pertama, sebagai alasan untuk tidak mengenakan masker di tempat umum; dan kedua, sebagai alasan untuk tidak divaksin.

Ironisnya, kelompok anti-vaksin yang paling vokal mengatakan "Tubuhku, Pilihanku" itu adalah kelompok konservatif yang dengan tegas menolak logika "Tubuhku, Pilihanku" dalam konteks aborsi.

Apakah proposisi ini setara? Dengan kata lain, apakah logis bagi kelompok konservatif untuk menolak hak perempuan atas otonomi tubuhnya untuk melakukan aborsi, namun di saat yang sama juga menegaskan hak mereka atas otonomi tubuhnya untuk menolak vaksinasi?

Sebagai profesor filsafat yang mengajarkan logika dan pemikiran kritis, saya terus mengikuti evolusi penggunaan slogan "Tubuhku, Pilihanku" ini dengan seksama.

Kelompok konservatif mengklaim bahwa jika kita membolehkan aborsi, maka seharusnya kita membolehkan siapa saja untuk tidak divaksin, kalau mereka menolak. (Namun karena kelompok ini memandang aborsi itu salah, pernyataan mereka jadi terdengar aneh: "Kau boleh melakukan apa yang kami anggap jahat, jadi kami harus diizinkan melakukan apa yang menurut kami benar"? Hum).

Kelompok liberal anti-vaksin juga berpendapat bahwa karena masyarakat mengakui bahwa perempuan berhak memutuskan untuk tidak hamil, maka seharusnya kita juga setuju bahwa siapa saja berhak memutuskan apakah mereka mau divaksin atau tidak, mengenakan masker atau tidak.

Namun, argumen ini cacat dalam melihat perbedaan antara aborsi dan anti-vaksin/anti-masker COVID. Sementara itu, baik kritikus liberal maupun konservatif cenderung mengabaikan perbedaan tersebut. Padahal, memperhatikan perbedaan dari kedua hal di atas mungkin dapat membantu kita untuk mendorong lebih banyak orang untuk divaksin dan bersedia melakukan hal yang diperlukan agar bisa melewati pandemi ini. Dan bahkan mungkin juga bisa membantu kita melindungi hak-hak aborsi.

***

Untuk memulainya, anggap saja bahwa semua orang setuju dengan slogan "Tubuhku, Pilihanku" ini.

Mari bayangkan, di suatu hari yang cerah ada orang yang memaksamu memakai tabir surya dengan alasan agar kulitmu tidak terbakar sinar matahari. Atau bayangkan seseorang memintamu untuk mencoba krim baru yang mereka yakini akan membuat kulitmu terlihat lebih cerah.

Sayangnya kau tidak mau. Jika kau menjawab "Tubuhku, Pilihanku," maka itu sah-sah saja. Karena, secara umum, tidak ada yang boleh memaksa kita untuk melakukan hal yang tidak ingin kita lakukan pada tubuh kita sendiri, apalagi jika penolakan tersebut tidak berdampak apapun pada orang lain.

Kelompok pro-choice sering memakai pandangan ini untuk membenarkan aborsi. Meskipun mereka tidak mengatakannya persis seperti itu. Mereka percaya bahwa embrio atau janin awal tidak akan dirugikan oleh aborsi, karena janin/embrio tidak dapat merasakan apa pun apalagi mempunyai perspektif tertentu tentang dunia. Mereka dibunuh, iya benar, tetapi mereka tidak disakiti; tidak seperti orang yang sudah dilahirkan ke dunia, yang akan dirugikan jika dibunuh. Ini adalah pandangan yang cukup logis, meskipun ini masih bergantung pada pengertian yang abstrak.

Beberapa orang dari kelompok pro-choice juga menyatakan "Tubuhku, Pilihanku" karena mereka percaya bahwa kita tidak boleh dipaksa untuk melakukan sesuatu pada tubuh kita jika tidak ada orang yang berhak menuntut kita melakukan hal tersebut.

Gagasan di balik ide ini adalah bahwa, sekalipun janin itu manusia yang memiliki hak untuk hidup, aborsi tetap diperbolehkan, karena kita tidak selalu berkewajiban untuk menyelamatkan nyawa orang lain, apalagi sampai dipaksa untuk melakukannya: Sekalipun tubuh perempuan dibutuhkan demi keberlangsungan hidup orang lain, perempuan tetap memiliki hak atas tubuh mereka sendiri dan itu sah-sah saja jika mereka mau melakukan aborsi. Jadi "Tubuhku, Pilihanku" dibenarkan berdasarkan hak atas tubuh sendiri dan juga berdasarkan fakta bahwa orang lain tidak memiliki hak atas tubuh orang lain.

***

Kritikus aborsi menyangkal kedua pandangan pro-choice tentang "Tubuhku, Pilihanku" ini dalam konteks aborsi. Mereka mengatakan: "menyamakan pilihan seseorang untuk menggunakan tabir surya dan melakukan aborsi itu dua hal yang berbeda, masalahnya aborsi itu bukan hanya tentang tubuhmu saja, ada kehidupan lain di dalamnya!"

Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa kita seharusnya tidak boleh membuat pilihan yang akan berdampak negatif pada tubuh orang lain, apalagi jika itu sampai membuat orang lain terbunuh.

Sepintas, alasan ini tampak masuk akal, setidaknya bagi sebagian orang; karena bagaimanapun, janin itu hidup, dan, yah, manusia (setidaknya dalam pengertian biologi), dan semua orang yang kita kenal juga adalah manusia. Adalah wajar jika kita merasa perlu untuk membantu orang lain. Ditambah lagi, banyak orang yang sudah melihat gambar-gambar aborsi yang mengerikan, sehingga mereka menyimpulkan bahwa semua atau sebagian besar aborsi, sebagaimana yang mereka lihat dalam gambar-gambar itu, adalah salah, berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai standar moral.

Argumen dari para penentang aborsi itu pada dasarnya tidaklah konyol: kritikus aborsi memiliki klaim dan pengamatan yang saya kira perlu ditanggapi secara serius. Akan tetapi, hal ini memerlukan pemikiran yang jelas tentang apa itu hak dan mengapa seseorang memilikinya. Selain itu, kita juga harus memiliki keterampilan dalam menangani potensi konflik moral, sekaligus memahami apa sebenarnya embrio, janin, dan aborsi itu. Banyak orang mengabaikan persoalan-persoalan tersebut. 

Namun yang jelas, pertanyaan utama kita saat ini adalah: bagi orang-orang yang percaya dengan slogan "Tubuhku, Pilihanku" namun tidak setuju dengan aborsi—apakah logis jika mereka menggunakan slogan tersebut dengan tujuan untuk menolak vaksinasi dan masker?

Ya—sebagian. 

Ini karena, jika tidak memakai masker atau divaksinasi, itu sama saja dengan sengaja menjadi penyebab kematian orang lain, sekalipun orang yang menolak aborsi memiliki alasan yang tepat—bahwa aborsi salah karena dengan sengaja membunuh orang (janin) yang tidak berdosa.

Sampai di sini jelas terlihat, bahwa mereka tidak setuju kalau slogan "Tubuhku, Pilihanku" itu digunakan untuk membenarkan aborsi, namun di sisi lain mereka memakai slogan "Tubuhku, Pilihanku" untuk membenarkan ketidakpatuhan mereka, seakan-akan mereka mengklaim bahwa aborsi adalah pembunuhan yang disengaja, sementara tidak mengenakan masker atau divaksin bukanlah pembunuhan.

***

Orang yang tidak memakai masker (di tempat umum ataupun di dalam ruangan) dan/atau tidak divaksin, menciptakan beberapa risiko serius kepada orang lain seperti meningkatkan risiko kematian. Meskipun ini tidak disengaja. Karena bagaimanapun, virus menular melalui udara dari satu orang ke orang lain. Dan tentu saja, pada tingkat kolektif, risiko penularannya akan semakin tinggi. 

Orang yang tidak memakai masker atau divaksin boleh dikatakan bertanggung jawab—mungkin dalam arti tertentu menciptakan—masalah utama kita saat ini di tengah mengganasnya COVID-19. Olehnya, tidak ada yang lebih baik daripada divaksin dan mengenakan masker. Ini bukan soal individual lagi, namun ini tentang orang-orang di sekitar kita atau masyarakat secara keseluruhan.

Banyak orang (pro-choice) berpikir bahwa orang yang menyebut diri mereka "pro-life" (pro kehidupan) mustinya peduli dengan orang lain dan bersedia melakukan upaya yang dapat meminimalisir risiko penularan penyakit pada orang lain. Harapan ini seharusnya mudah dimengerti, mengingat label "pro-life" itu. Yang kita butuhkan hanyalah kepekaan moral. Dalam konteks hari ini, mengenakan masker dan divaksin adalah hal yang lebih baik dilakukan, itupun jika kita masih menganggap diri kita bermoral dan peduli pada orang lain. 

***

Ini juga merupakan konsekuensi dari hak kita atas tubuh kita sendiri sehingga kita boleh-boleh saja dan sah mengatakan kepada orang lain bahwa jika mereka tidak menjaga kesehatan mereka sendiri, maka mereka tidak boleh berada di sekitar kita.

"Tubuhku, Pilihanku" adalah tentang kebebasan. Jika pilihan kita membatasi kebebasan orang lain, maka itu tidak diperbolehkan. Ini adalah salah satu alasan mengapa aborsi itu sah-sah saja: janin di masa-masa awal tidak memiliki keinginan atau hasrat yang diperlukan untuk memiliki (atau tidak memiliki) jenis kebebasan atau otonomi tertentu. Maka dari itu, kita harus menghargai mereka yang tidak mau terpapar COVID dengan cara mengenakan masker dan divaksinasi.


Tulisan ini telah dialih-bahasakan oleh Redaksi Sophia Institute dari artikel asli yang berjudul "Anti-vaxxers have co-opted the pro-choice slogan 'My Body, My Choice.' Does that even make sense?" atas izin penulisnya.

Nathan Nobis, Ph.D, Pimpinan redaksi  1000-Word Philosophy: An Introductory Anthology dan co-Author Thinking Critically About Abortion.

Lebih baru Lebih lama