Loading...
Open Recruitment

Manusia selalu menggunakan hierarki khayalan untuk menjelaskan realitas sosialnya, baik itu hierarki ras, agama, hingga jenis kelamin. Misalnya, bagi orang Amerika modern ras itu sangat penting, namun relatif tidak penting bagi muslim abad pertengahan. Bagi orang India zaman pertengahan, kasta adalah masalah hidup dan mati, sementara bagi orang Eropa modern, kasta tidak ada. 

Namun ada satu jenis hierarki yang senantiasa berada di posisi amat penting di seluruh masyarakat, yaitu hierarki jenis kelamin. Orang-orang di mana pun berada selalu mengindentifikasikan diri mereka sebagai laki-laki dan perempuan. Namun ironisnya, nyaris di semua tempat, laki-laki selalu memperoleh keuntungan yang lebih daripada perempuan.

Dalam banyak masyarakat, perempuan sering dianggap sebagai harta atau properti milik laki-laki, paling sering ayah, suami, atau saudara laki-laki mereka. 

Mari kita ambil contoh dalam suatu kasus, misalnya kasus pemerkosaan. Dalam banyak sistem hukum, pemerkosaan sering digolongkan sebagai pelanggaran atas hak milik. Dengan kata lain, korbannya bukanlah perempuan yang diperkosa melainkan laki-laki yang memilikinya. Dengan demikian, cara untuk menyelesaikan pelanggaran atas hak miliki tersebut umumnya adalah dengan cara pemindahan hak milik; Si pemerkosa wajib membayar mahar kepada ayah atau saudara laki-laki perempuan itu, dan lantas perempuan tersebut menjadi milik sang pemerkosa itu, seperti yang tertera di Alkitab (Ulangan 22:28-9). Orang-orang Ibrani kuno menganggap penyelesaian semacam itu masuk akal. Gagasan semacam inilah yang oleh masyarakat modern sebut sebagai sistem patriarki. 

Patriarki adalah salah satu variasi dari ideologi hegemoni; suatu ideologi yang membenarkan penguasaan suatu kelompok terhadap kelompok lainnya. Dominasi kekuasaan seperti ini dapat terjadi antar kelompok yang didasarkan atas perbedaan jenis kelamin, agama, ras, ataupun kelas ekonomi. 

Sistem sosial patriarki membuat laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan. Dominasi laki-laki ini tidak hanya mencakup ranah personal saja, melainkan juga dalam ranah yang lebih luas seperti politik, pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain. 

Dalam ranah personal, budaya patriarki adalah akar dari munculnya berbagai tindak kekerasan yang dialamatkan laki-laki kepada perempuan. Atas dasar "hak istimewa" yang dimiliki laki-laki, mereka juga merasa memiliki hak untuk mengeksploitasi tubuh perempuan.

Maskulinitas dan Feminimitas

Maskulinitas adalah stereotype tentang laki-laki yang sering dipertentangkan dengan feminimitas sebagai stereotype perempuan. Maskulin dan feminim adalah dua kutub sifat yang berlawanan dan membentuk suatu garis lurus yang setiap titiknya menggambarkan derajat kelaki-lakian (maskulinitas) atau keperempuanan (feminimitas). Seorang laki-laki yang memiliki karakteristik yang identik dengan stereotype maskulin ini akan disebut sebagai laki-laki maskulin, namun jika karakteristik ini kurang maka dia disebut laki-laki feminim. Demikian pula sebaliknya.

Lebih jauh, stereotype maskulinitas dan feminimitas ini mencakup berbagai aspek dari karakteristik individu, seperti kepribadian, perilaku, peran, okupasi, penampilan fisik, ataupun orientasi seksual. Misalnya laki-laki selalu dicirikan sebagai makhluk yang terbuka, kasar, agresif, dan rasional, sementara perempuan selalu dicirikan sebagai makhluk yang tertutup, halus, afektif, dan emosional. 

Dalam kaitannya dengan hubungan antar individu, laki-laki diakui maskulinitasnya jika mereka dilayani oleh perempuan, sementara perempuan akan terpenuhi feminitasnya jika mereka bisa melayani laki-laki. Sama halnya dengan hal okupasi; Pekerjaan yang mengandalkan kekuatan dan keberanian seperti tentara, sopir, petinju, dan sebagainya, disebut sebagai pekerjaan maskulin, sementara pekerjaan yang memerlukan kelembutan, ketelitian, dan perasaan seperti salon kecantikan, juru masak, menjahit, mengurus anak, dan sebagainya, disebut sebagai pekerjaan feminim. Stereotype inilah yang pada gilirannya menciptakan hubungan yang bias antara laki-laki dan perempuan, di mana hegemoni laki-laki atas perempuan dianggap sesuatu yang kodrati.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa maskulinitas dan feminimitas bukanlah konsep yang berdimensi tunggal, sebab ada berbagai bentuk maskulinitas dan feminimitas. Artinya konsep tersebut bervariasi antar masyarakat, kelas sosial, maupun antar peradaban. Dengan kata lain maskulinitas dan feminimitas adalah konstruksi sosial (bukan kodrat). Setiap masyarakat dapat menafsirkan dan memberikan makna yang berbeda pada konsep tersebut. 

Dengan menyadari bahwa maskulinitas dan feminimitas adalah konsep atau konstruksi sosial, maka terbuka ruang bagi kita untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi pada konsep tersebut. 

Kekerasan

Kekerasan secara tradisional juga merupakan stereotype laki-laki. Kata maskulin sendiri sangat dekat dengan kata muscle (otot) yang dapat diasosiasikan dengan kekuatan, keperkasaan, kepahlawanan, dan kekerasan. Misal, menjadi tentara adalah pekerjaan yang diidentikkan dengan maskulinitas karena pekerjaan ini sangat menekankan kekuatan, keperkasaan, dan heroisme. 

Tetapi menarik untuk dicermati bagaimana Amerika pada era 60an terlibat perang Vietnam. Amerika saat itu mewajibkan pemudanya untuk masuk tentara. Namun sekelompok perempuan di Amerika saat itu melancarkan protes dengan menggelar spanduk yang bertuliskan: “girls say yes to guys who say no”. Protes ini menegaskan bahwa heroisme tidak lagi diartikan sebagai keberanian untuk berperang, tetapi keberanian untuk menolak perang. Maka dari itu laki-laki sejati adalah laki-laki yang cinta damai.

Alami dan Tidak Alami

Apakah pembagian laki-laki dan perempuan adalah produk imajinasi, ataukah pembagian tersebut alami? Kalau memang pembagian tersebut alami, adakah penjelasan biologis mengapa laki-laki dianggap lebih tinggi derajatnya daripada perempuan? 

Pada dasarnya, sebagian besar kesenjangan budaya, hukum, dan politik antara laki-laki dan perempuan mencerminkan perbedaan biologis yang nyata antar jenis kelamin, seperti melahirkan anak. Melahirkan anak selalu menjadi pekerjaan perempuan, karena laki-laki tidak memiliki rahim. Namun demikian, masyarakat seringkali menempatkan beragam gagasan dan norma budaya yang nyaris tidak ada kaitannya dengan biologi. Masyarakat seringkali mengaitkan berbagai sifat dengan maskulinitas dan feminitas yang kebanyakan tidak memiliki dasar biologis yang kuat.

Misalnya, di Athena abad ke-5 SM, seorang yang memiliki rahim (perempuan) tidak punya status hukum independent dan dilarang turut serta dalam majelis rakyat (proses demokrasi) atau menjadi hakim. Menurut mereka, tidak ada pemimpin politik, filsuf, orator, seniman, atau saudagar yang memiliki rahim. 

Sekarang hal tersebut memicu pertanyaan, apakah rahim membuat seseorang, secara biologis, tidak layak untuk melakukan profesi-profesi tertentu? Masyarakat Athena kuno berpikir demikian, namun masyarakat Athena modern tidak. Di Athena hari ini, perempuan telah memiliki hak suara, dapat dipilih dan memegang jabatan publik, berpidato, dan belajar di perguruan tinggi. Rahim mereka tidak lagi menghalangi mereka untuk melakukan hal-hal tersebut.

Kalau begitu, bagaimana kita membedakan yang mana ketetapan biologis (alami) dan yang mana mitos-mitos biologis? 

Kata kunci untuk menjawab pertanyaan ini adalah: Umumnya, biologi mengatakan bahwa "segala sesuatu itu mungkin terjadi", sementara budaya biasanya melarangnya. Contoh: Biologi memungkinkan laki-laki untuk berhubungan badan dengan sesama laki-laki. Namun begitu sejumlah budaya melarangnya dan menafikkan pandangan biologi bahwa seks sesama jenis itu adalah hal yang 'mungkin'. Budaya cenderung mengaku melarang hal-hal yang tidak alami, namun sayang, dari perspektif biologi tidak ada yang tidak alami. Menurut biologi, apapun hal yang 'mungkin' terjadi, berarti adalah alami.

Hakikatnya, konsep-konsep kita tentang alami dan tidak alami bukan didasarkan pada realitas biologi, melainkan pada teologi atau agama. Itu artinya gagasan kita tentang alami dan tidak alami kebanyakan tidak memiliki landasan empirik yang kuat. Misalnya, dalam sudut pandang teologi, apa yang disebut alami adalah sesuatu hal yang sesuai dengan keinginan atau ketetapan Tuhan pencipta. Para ahli teologi berpendapat bahwa Tuhan menciptakan tubuh manusia dengan maksud dan tujuan tertentu yang telah digariskan tuhan (kodrat), maka aktivitas itu alami, sementara jika kita menggunakannya untuk tujuan selain yang diinginkan Tuhan adalah tidak alami. 

Namun sayangnya, evolusi tidak punya tujuan. Organ-organ tidak berovolusi dengan tujuan atau maksud tertentu. Ia bekerja secara random. Kegunaan atau fungsi organ-organ tubuh kita terus menerus berubah secara alamiah, mulut misalnya. Mulut muncul karena organisme-organisme multiseluler paling awal memerlukan cara untuk memasukkan makanan ke dalam tubuh, namun demikian hari ini kita juga bisa menggunakan mulut untuk mencium, berbicara, dan - kalau kita Rambo - untuk menarik picu granat dari tangan. Apakah kegunaan-kegunaan tersebut tidak alami?

Oleh karena itu, tidak ada artinya untuk kita berargumen bahwa fungsi alami perempuan adalah melahirkan atau bahwa homoseksual tidak alami. 

Faktanya, kebanyakan hukum, norma, hak, dan kewajiban yang mendefinisikan kelaki-lakian dan keperempuanan lebih mencerminkan imajinasi manusia saja ketimbang realitas biologis. 

Referensi

Harari, Yuval Noah. Sapiens. Kepustakan Populer Gramedia (KPG): Jakarta, 2017.

Moh HidayatMahasiswa UIN Palu.
Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment