Loading...

Apakah Anda pernah merasa begitu pesimis dan terus berpikir negatif akan sesuatu? Tidak peduli seberapa optimis dan positifnya kita berpikir, terkadang pikiran negatif bisa muncul begitu saja tanpa mengenal waktu. Hal tersebut muncul karena kita dibayangi oleh ekspetasi tentang masa depan yang suram, juga kegagalan dan ketakutan akan kenyataan yang akan datang.

Lantas apakah hal tersebut harus dihilangkan demi mendapatkan apa yang kita sebut dengan 'kedamaian'?

Sebelum membahas mengenai perlu-tidaknya pikiran negatif tersebut dihilangkan, saya kira kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan negative thinking itu sendiri.  

Umumnya kita menganggap bahwa negative thinking sebagai pola atau cara memandang suatu hal yang lebih menitikberatkan pada sisi negatif sesuatu dibandingkan dengan sisi positifnya sehingga dampak yang dihasilkan pun juga terkesan buruk. 

Hal ini pada akhirnya kerap dianggap sebagai penghambat kemajuan seseorang dalam mengolah emosi mereka sendiri dan juga dalam usaha untuk menjalin hubungan mereka dengan orang lain. 

Namun demikian, perlu kita ketahui bahwa negative thinking dan respon atau sikap negatif tersebut merupakan dua hal yang berbeda; Jika sikap negatif digambarkan sebagai kebiasaan buruk, cemas yang berlebihan, dan/atau perasaan tak berdaya akan sesuatu, maka menurut hemat saya negative thinking bukan termasuk hal-hal tersebut. Memang benar bahwa sikap negatif adalah dampak dari cara berpikir yang negatif (negative thinking), namun tidak semua negative thinking adalah sikap negatif. 

Sikap negatif sendiri - jika boleh disebutkan - berasal dari respon yang keliru terhadap negative thinking, sebagai contoh: Jika Anda berkendara di jalan raya, adakalanya di mana pikiran-pikiran negatif Anda memberikan sinyal tertentu bahwa jika Anda berkendara di jalan raya itu akan beresiko membuat Anda mengalami kecelakaan. 

Di sini, kemungkinan bahwa Anda akan mengalami kecelakaan di jalan raya itu memang 'mungkin' benar dan bisa saja terjadi sewaktu-waktu, namun kecemasan yang berlebihan (respon/sikap negatif) terhadap 'kemungkinan' tersebut tidak dapat dibenarkan, sebab pikiran kita tidak dapat membuat sesuatu hal terjadi begitu saja tanpa aksi apapun. 

Terkadang apa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi kepada kita bukan lah pikiran kita, namun bagaimana respon kita terhadap pikiran itu sendiri. Singkat kata, respon Anda terhadap pikiran Anda akan menentukan skenario yang akan terjadi kepada Anda. Jika respon tersebut negatif seperti menjadi cemas dan gelisah di saat berkendara, kemungkinan Anda akan mengalami kecelakaan justru akan semakin tinggi. Dengan demikian, segala sesuatu yang dipandang dari hal negatif tidak selalu berakhir dengan dampak yang buruk pula. 

***

Sejak lama, kita selalu diajarkan untuk menjadi pribadi yang selalu berpikir positif dan menyuruh kita untuk meninggalkan pikiran-pikiran negatif dan segala bentuknya. Bahkan, tak terhitung jumlah buku, blog, artikel, berita dan seminar yang menomor-satukan pikiran yang positif dan mengutuk pikiran yang negatif. Namun, bukankah terlalu berpikir positif akan menjadi bumerang untuk diri sendiri? Bukankah dengan menjadi terlalu optimis kita justru akan merasakan kekecawaan yang lebih dalam?

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychologist, para peneliti menyatakan bahwa 90% upaya untuk menghilangkan stress secara keseluruhan berakhir dengan kegagalan. Menariknya, hal ini bukan disebabkan oleh negative thinking atau kepercayaan diri yang lemah, melainkan karena positive thinking yang berlebihan. 

Penelitian tersebut menggambarkan bahwa semakin ambisius tujuan Anda, maka kepercayaan diri Anda akan semakin tinggi. Namun kontrasnya, semakin Anda percaya bahwa Anda akan berhasil (dan justru berakhir gagal) maka semakin besar pula kekecewaan yang akan Anda dapatkan.

Hal ini berbeda dengan mereka yang cenderung berpikir negatif; Mereka justru lebih mungkin terhindar dari kekecewaan yang berlebihan. Ini dikarenakan keraguan diri atau sikap pesimis mereka membuat mereka jauh lebih siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan datang. 

Maka dari itu, berpikir negatif bisa menjadi cara terbaik dan cukup bermanfaat bagi kita dalam melihat realitas sekaligus dalam membangun langkah yang tepat dalan meraih kesuksesan. Sebab, berpikir negatif dapat membantu kita untuk meminimalisir kekecewaan dan membuat kita lebih siap untuk mencegah skenario-skenario terburuk.

Olehnya kita tidak perlu lagi ngotot menghilangkan pikiran-pikiran negatif kita, karena yang terpenting ialah bagaimana cara kita dalam mengolah emosi, respon, dan membangun ekspektasi atas sesuatu, ini juga termasuk bagaimana cara kita memikirkan apa yang mungkin terjadi. 

Dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, seseorang mau tak mau akan memikirkan tindakan yang tepat dalam mengurangi dampak yang akan terjadi. Singkatnya, melatih diri dalam menghadapi skenario terburuk membuat seseorang lebih mampu meminimalisir kekecewaannya.

Abd GafurMahasiswa UIN Palu.

Lebih baru Lebih lama