Loading...
Open Recruitment

Kesadaran sering diistilahkan sebagai the hard problem (masalah yang sulit) di dalam ilmu saraf (sebagai lawan dari masalah "mudah", seperti bagaimana suatu ingatan disimpan dan diambil, atau bagaimana saraf menyebabkan gangguan kejiwaan). The hard problem pada dasarnya adalah pertanyaan tentang bagaimana pengalaman kesadaran muncul dari reaksi kimia dan koneksi saraf yang membentuk otak. 

Meskipun ilmu saraf sudah banyak melakukan kemajuan yang luar biasa dalam memahami cara kerja otak, pertanyaan tentang apa itu pikiran masih menjadi misteri. Sains, hingga detik ini, pun belum menemukan penjelasan yang memuaskan tentang bagaimana otak menghasilkan bau hujan, rasa gembira, dan yang paling penting, perasaan sadar bahwa Anda sadar.

Kita Berada di Tempat Yang Sama

Ada dua pandangan dasar yang menjelaskan tentang kesadaran: Filsafat Materialisme dan Dualisme. Materialisme mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di realitas objektif hanyalah materi fisik saja. Kesadaran muncul (entah bagaimana) di luar dari otak fisik. Sementara Dualisme berpendapat bahwa kesadaran adalah sesuatu yang terpisah dari materi. 

Meskipun kedua aliran itu menjelaskan alasan dari gagasan mereka, sayangnya tidak ada sudut pandang yang benar-benar memuaskan dari kedua teori kesadaran di atas; Materialisme tidak dapat menjelaskan bagaimana materi menghasilkan kesadaran; Dualisme, di sisi lain, juga tidak dapat menjelaskan bagaimana kesadaran yang non-materi berinteraksi dengan materi. 

Nah, di sini lah Panpsikisme memberikan jalan keluar dari teka-teki yang menyulitkan ini. 

Panpsikisme adalah gagasan bahwa kesadaran tidak berevolusi hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam bertahan hidup (survive), kesadaran juga tidak muncul ketika otak, secara fisik, menjadi begitu kompleks. Sebaliknya, kesadaran itu melekat di dalam setiap materi — semua materi. Dengan kata lain, segala sesuatu memiliki kesadaran. 

Lebih jauh, panpsikisme mengklaim bahwa kesadaran tidak hanya dimiliki oleh manusia dan hewan saja. Tumbuhan juga memilikinya. Selain itu, kesadaran tidak hanya ada di makhluk hidup itu saja; batu, bintang, elektron, foton, dan kuark pun juga memiliki kesadaran. Bahkan menurut beberapa teori, alam semesta itu sendiri sebenarnya sadar. (Variasi filsafat panpsikisme ini kemudian dikenal sebagai kosmopsikisme.)

Ini mungkin terdengar seperti ide tergila yang pernah ada — jauh lebih gila daripada teori bahwa ada alien dari luar angkasa yang diam-diam tinggal bersama kita. Namun begitu, banyak pemikir waras dan bereputasi baik menganggap serius panpsikisme, dan sampai hari ini pun jumlah mereka terus meningkat.

Meskipun teori ini tampak seperti sesuatu yang muncul dari budaya psikedelik, panpsikisme sebenarnya sudah ada sejak lama. Filsuf dan matematikawan Bertrand Russell, Alfred North Whitehead, fisikawan Arthur Eddington, Ernst Schrödinger, Max Planck, dan psikolog William James hanyalah beberapa dari banyak pemikir di masa lalu yang mendukung beberapa bentuk panpsikisme. Filsafat panpsikisme ini kemudian kehilangan daya tariknya di akhir abad ke-20, namun baru-baru ini, para filsuf dan ilmuwan seperti David Chalmers, Bernardo Kastrup, Christof Koch, dan Philip Goff mencoba menghidupkan kembali gagasan ini, dan bahkan membuat klaim yang kuat untuk mendukung beberapa bentuk panpsikisme. 

Panpsikisme 101

Orang-orang yang mendukung panpsikisme umumnya tidak mengklaim bahwa foton atau materi fisik lain punya kesadaran yang sama seperti Anda atau kucing Anda seperti yang dijelaskan dalam buku yang berjudul Galileo's Error: Foundations for a New Science of Consciousness yang ditulis oleh seorang filsuf di Durham University, Inggris, bernama Philip Goff. Buku yang menjelaskan tentang panpsikisme secara mendetail. 

Dalam sebuah artikel untuk majalah Philosophy Now, Goff menjelaskan pandangannya seperti ini: “Panpsikisme sebagaimana yang dipahami di dalam filsafat kontemporer adalah pandangan bahwa kesadaran itu mendasar dan ada di mana-mana, dimana menjadi sadar adalah hanya untuk memiliki pengalaman subjektif dari beberapa jenis pengalaman. Ini tidak selalu menyiratkan sesuatu yang secanggih pikiran.”

Sebaliknya, sebuah foton hanya memiliki sedikit kesadaran saja, yang oleh Goff sebut sebagai kesadaran yang "belum sempurna". Namun ketika potongan-potongan foton ini berkumpul dengan cara yang terorganisir dan tersistematisasi, maka Anda akan menemukan sesuatu yang dapat menghasilkan aroma kamperfuli atau keinginan untuk menyeruput secangkir teh yang lezat. Gagasan ini tentu sangat menyederhanakan masalah sulit sebelummya (the hard problem). Seperti yang ditulis Goff, bahwa kesadaran tidak memerlukan "pikiran ketika bentuk-bentuk kehidupan kompleks tertentu sudah muncul" atau bahkan tidak memerlukan jiwa "turun dari alam immaterial pada saat pembuahan." Sebaliknya, segala sesuatu tentang manusia, termasuk kesadaran yang sangat kita banggakan itu, hanyalah susunan dari bahan yang sama dengan semua bentuk materi lain. Kesadaran manusia bukanlah sesuatu yang se-luar biasa itu, atau bahkan bukan sesuatu yang istimewa.

Pengujian

Filsuf David Chalmers pernah mengatakan bahwa ketika berbicara mengenai kesadaran, sulit untuk menghindar dari jebakan panpsikisme. Jadi tidak mengherankan jika ide ini terus muncul. Meskipun tidak masuk akal, tulis Chalmers, teori panpsikisme setidaknya lebih baik ketimbang teori kesadaran lainnya. 

Di sisi lain, terlepas dari gilanya gagasan ini, bukan berarti sains tidak serius menangani masalah ini. Giulio Tononi, seorang ahli saraf di University of Wisconsin-Madison, telah mengembangkan sesuatu yang disebut The Integrated Information theory of Consciousness (IIT) atau teori kesadaran informasi terpadu. IIT berpendapat bahwa kesadaran sebenarnya adalah sejenis informasi dan dapat diukur secara matematis, meskipun melakukannya tidak mudah.

Namun begitu, tidak semua orang percaya panpsikisme. Filsuf John Searle telah lama menentang secara vokal teori ini. Kevin Mitchell, seorang ahli saraf di Trinity College Dublin, menulis bahwa jangankan benar, panpsikisme ”bahkan tidak salah”. Dalam sebuah artikel di Aeon, filsuf Inggris Keith Frankish, yang mewakili posisi banyak filsuf modern, menulis bahwa kesadaran bukan hanya tidak universal; kesadaran bahkan tidak pernah ada. Itu hanya ilusi. 

Terlepas dari pro-kontra gagasan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berkesadaran, ia tetap menjadi gagasan yang umum kita jumpai, gagasan yang paling tidak membuat Anda melihat dunia di sekitar Anda dengan cara yang sama sekali berbeda, bukan?


Tulisan ini telah dialih-bahasakan oleh Redaksi Sophia Institute dari artikel asli yang berjudul "Panpsychism: The Trippy Theory That Everything From Bananas to Bicycles Are Conscious" atas izin Discover Magazine.

Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment