Loading...
Open Recruitment

David Hume (1711-1776) adalah filsuf yang berada di puncak filsafat empirisme Inggris. Kesimpulan Hume yang paling berkesan adalah bahwa pencarian kita akan pengetahuan tidak akan bisa mencapai apa yang kita sebut dengan pengetahuan yang sejati. 

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa Descartes adalah seorang skeptis sejati, tetapi sayangnya dia masih percaya bahwa pengetahuan sejati itu mungkin. Sebaliknya, Hume sangat meragukan bahwa pengetahuan sejati itu mungkin. Maka dari itu, Hume lah seorang skeptis sejati. 

Jadi, apakah pengetahuan ilmiah atau filosofis itu mungkin? Ya dan tidak, itulah yang dikatakan Hume.

Di masa Hume, sains sedang membangun kembali struktur pengetahuannya, tetapi Hume merasa terganggu dengan kelonggaran atau kelemahan yang dia temukan di dalam struktur sains ini. Meskipun begitu, Hume sama sekali tidak menentang sains, dia hanya berpikir bahwa sains membangun asumsi ilmiahnya di atas pondasi yang lemah.

Hume mengatakan bahwa ada tiga asumsi utama di dalam sains yang umum kita ketahui: 1) Masa kini dan masa depan berperilaku seperti masa lalu; 2) Kita memiliki kesan sebab-akibat; 3) Kita dapat bernalar dari akibat ke sebab. 

Pada poin pertama, kita berasumsi bahwa jika kesan meja di sebuah ruangan hari ini identik dengan kesan meja saat terakhir kali kita melihatnya, itu pasti meja yang sama. Hume menunjukkan bahwa kita tidak punya landasan rasional yang kuat untuk mengatakan bahwa kesamaan kesan sama dengan kesamaan identitas. Toh, seseorang bisa saja mengganti mejanya, namun kebetulan saja mejanya terlihat sama dan sehingga memiliki kesan yang sama.

Kekeliruan sains, menurut Hume, adalah asumsinya bahwa objek dan gaya yang bekerja dengan sama persis di masa lalu dan hari ini, pasti akan terus bekerja dengan cara yang sama di masa depan. Namun, bagaimana jika itu tidak terjadi? Tanya Hume. Hume menyatakan bahwa jika gravitasi bekerja dengan cara yang berbeda besok, misalnya, itu bukan berarti bahwa gravitasi telah melanggar hukum atau logika.

Berikutnya adalah asumsi kedua sains yang merupakan sasaran kritik Hume yang paling merusak, yaitu prinsip sebab-akibat (kausalitas). Menurut Hume, kita tidak pernah memiliki kesan sebab-akibat. Mengapa kita menyimpulkan bahwa palu menyebabkan rasa sakit di ibu jari adalah karena kita memiliki kesan palu mengenai ibu jari dan setelah itu kita merasakan kesan sakit di ibu jari. Ini adalah korelasi atau hubungan yang kita bangun terhadap beberapa momen-momen atau peristiwa, bukan sebab-akibat. Kita pada dasarnya belum menemukan apa hubungan antara kesan kita terhadap palu dan kesan sakit yang kita rasakan. 

Mari kita ambil contoh: Jika ada seseorang di dalam ruangan sedang menyalakan lampu namun pada saat yang sama Anda juga sedang memasuki ruangan tersebut secara diam-diam, orang tersebut - yang tidak tahu Anda membuka pintu - akan menyimpulkan bahwa pintu terbuka karena dia menyalakan lampu. Tentu ini adalah kesimpulan yang salah. 

Masih kurang paham? Oke, mari kita beralih ke contoh permainan biliar. Ini adalah contoh yang biasa Hume gunakan. 

Coba kita bayangkan sebuah permainan biliar. Di atas meja biliar, kita melihat bola putih bergerak dengan garis lurus melintasi meja menuju bola berwarna merah. Kemudian kita melihat bola putih tampak bersentuhan dengan bola merah. Lalu kita melihat bola merah bergerak. Di contoh ini kita mengalami tiga kesan yang terpisah, menurut Hume, namun mengapa kita berasumsi bahwa bola putih menyebabkan bola merah bergerak? 

Hume bertanya-tanya di mana kesan kausalitas itu. Kata Hume, ini adalah asumsi imajiner kita sebagai subjek bahwa bola putih menyebabkan bola merah bergerak. Padahal, itu disebakan oleh 'faktor kebiasaan' bahwa hal atau peristiwa tersebut pasti akan terjadi lagi dengan cara kerja yang sama.

Kalau begitu, apa yang dia maksud dengan faktor kebiasaan? Ini adalah argumen yang sulit untuk dipahami, tetapi ayo kita saling membantu. Mari kita beralih ke contoh lain:

Hume mengatakan bahwa kita sudah mengamati bagaimana matahari terbit setiap hari, jadi kita berharap matahari akan terbit besok. Tetapi hubungan antara fakta bahwa "matahari terbit selalu terjadi" dan proposisi bahwa "matahari akan terbit besok" belum boleh dianggap sebagai gagasan yang benar. Itu karena proposisi bahwa "matahari tidak akan terbit besok" pun bisa terjadi, dan itu bukanlah kontradiksi sama sekali. Itu bisa saja terjadi dan itu tidak akan bertentangan dengan logika jika matahari yang terbit itu tidak akan terbit besok. Di sinilah poin Hume. 

Kembali ke bola bilyar. Jika kita melihat bola putih bersentuhan dengan bola merah dan bola merah tidak bergerak, apakah itu kontradiksi atau bertentang dengan prinsip logika? Bisakah kita membayangkan bola merah akan tetap diam meskipun bola putih menabraknya? Tentu saja bisa! Nah, jika memang bisa, maka seharusnya tidak logis jika kita berpikir bahwa bola putih akan membuat bola merah bergerak. Karena, ya, tidak selalu. 

Mari kita buat eksperimen ilmiah. Kita akan melakukan 100 percobaan di mana bola putih akan menabrak bola merah dan lalu mencatat hasilnya. Nah, anggap lah bahwa Anda sudah melakukan percobaannya dan sekarang sudah mencatat datanya: bahwa jika bola putih menabrak bola merah sebanyak 100 kali maka bola merah juga akan bergerak sebanyak 100 kali. Di sini Anda mungkin merasa data ini membuktikan bahwa jika bola putih menabrak bola merah, itu akan menyebabkan bola merah bergerak. 

Baiklah.

Bagaimana jika kita melakukan percobaan yang ke-101. Apakah Anda tetap mengatakan bahwa bola merah pasti akan bergerak lagi? "Tentu saja!" Anda mungkin menjawab. Tetapi bisakah Anda bayangkan bola merah tidak bergerak? Ya tentu saja bisa, toh bukan hal yang mustahil jika bola merah tidak bergerak ketika bola putih menabraknya. Oleh karena itu, eksperimen kita di atas belum menetapkan secara jelas hubungan sebab-akibat yang diperlukan. 

Menurut Hume, apa yang kita lakukan hanya lah mencatat pola perilaku bola tersebut di masa lalu. Kita juga sama sekali tidak mengamati sebab-akibat, atau hubungan sebab-akibat. Dalam setiap percobaan yang kita lakukan di atas, kita hanya melihat tiga tayangan terpisah saja, tapi bukan kausalitas: 1) Kita melihat bola putih bergerak ke arah bola merah; 2) Kita melihat bola putih bersentuhan dengan bola merah; 3) Kita melihat bola merah bergerak. Itu saja yang kita amati. Kita tidak mengamati hubungan yang diperlukan antara kesan-kesan terpisah ini yang menetapkan bahwa sebab-akibat itu ada.

Hume mengatakan, alasan mengapa kita beranggapan kalau sebab-akibat itu ada, bukan karena sebab-akibat itu memang benar-benar ada, tetapi karena pengalaman atau kebiasaan kita dalam menghubungkan beberapa momen-momen atau peristiwa-peristiwa di masa lalu. Kita membayangkan kausalitas karena kita mengalami kedekatan antara peristiwa-peristiwa dan mengalami kesan peristiwa-peristiwa itu dalam urutan tertentu; dalam hal ini, kita selalu mengalami kesan dari urutan 1, 2, dan kemudian 3. Tidak pernah urutan lain! Kita juga mengalaminya dalam konjungsi yang konstan, yang artinya kita hanya menyaksikan kesan 1, 2, dan 3 yang digabungkan berulang kali terus menerus. Hume mengatakan bahwa kita menambahkan kesan-kesan itu dengan gagasan-gagasan tertentu seolah-olah ada hubungan tertentu antara momen-momen tersebut: Inilah yang membuat kita berpikir bahwa sebab-akibat itu ada. Padahal tidak sama sekali. 

Kita mengamati X diikuti oleh Y, jadi kita menyimpulkan bahwa kemunculan X yang serupa akan diikuti oleh kemunculan Y yang serupa. Kita menyimpulkannya, tetapi kita tidak dapat membuktikannya sebagai hubungan ide-ide tertentu. Memang ini adalah hubungan atau korelasi yang paling mungkin dalam urutan-urutan peristiwa, tetapi seperti yang harus diketahui oleh setiap orang yang rasional bahwa "korelasi" atau "hubungan" beberapa momen atau peristiwa di masa lalu tidak sama dengan sebab-akibat.

Tentu saja argumen Hume tentang sebab-akibat ini memiliki implikasi yang sangat besar terhadap sains sebab segala sesuatu dalam sains didasarkan pada hubungan sebab-akibat, mulai dari pergerakan planet hingga cara kerja sel. Tetapi jika kita memang tidak pernah memiliki kesan sebab-akibat apapun, lalu keyakinan apa yang bisa kita tempatkan ke dalam ilmu pengetahuan? Apakah keyakinan kita terhadap fisika, kimia, biologi, dan yang lainnya selama ini salah tempat?

Ini adalah masalah besar. Seperti yang dapat kita lihat dari argumen Hume: sains tidak hanya mengasumsikan sebab-akibat tanpa landasan rasional, tetapi juga sebagian besar argumen sains bergantung pada asumsi bahwa dari sebuah 'akibat' kita dapat berpikir tentang suatu 'sebab'. Ini adalah asumsi ketiga sains. Dan ini tentu saja keliru. 

Namun terlepas dari kritiknya di atas, itu bukan berarti Hume menyarankan kita agar meninggalkan sains. Dia hanya menjelaskan bahwa akal tidak dapat membuktikan keyakinan kita yang paling mendasar tentang bagaimana alam semesta bekerja. Kita harus membuang anggapan kita bahwa rasio dan sains akan memberikan kita pengetahuan yang sempurna. Sebaliknya, kita harus menerima bahwa pengetahuan manusia adalah kesimpulan yang didasarkan pada ide-ide yang tidak tepat tentang kesan sekilas yang dibentuk oleh kebiasaan sosial dan juga kebiasaan pribadi.


Tulisan ini telah dialih-bahasakan oleh Redaksi Sophia Institute dari artikel asli yang berjudul "David Hume On Causality and Science"  atas izin penulis.

Douglas Giles, Ph.DGuru besar filsafat di Universitas Elmhurst.
Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment