Loading...
Iklan dan Kerjasama

Pertanyaan-pertanyaan objective-scientific seputar Covid-19 dan dampak sosialnya tentu saja lebih tepat dibicarakan para dokter, pakar ekonomi dan ahli kebijakan publik. Lalu, masih adakah ruang diskursus untuk filsafat?

Filsafat tentu saja masih memiliki peran penting dalam mengelaborasi setiap persoalan krusial, termasuk pandemi Covid-19. Peran filsafat itu, meminjam ungkapan Slavoj Zizek, lebih sebagai unruhestifter – ‘pencipta kegaduhan’. Olehnya tugas seorang pemikir dalam melakukan reflektif filosofis dalam melihat pandemi penting bagi kita untuk melewati badai pandemi yang (sekali lagi) meningkat ini. 

Salah satu pemikir yang melakukannya adalah Lukman S. Thahir. Beliau menulis buku menarik yang berjudul "Filsafat Pandemi". Buku ini merupakan hasil refleksi beliau dalam menjawab berbagai persoalan dan perdebatan yang hadir di masyarakat sejak dunia terjangkit wabah Covid-19. 

Namun demikian, ada beberapa gagasan yang kurang saya setujui pada bagian awal buku ini yang nanti akan saya coba terangkan di bawah ini. 

Kesehatan Tidak Dapat Diketahui?

Pada bab awal buku ini - Kesehatan dan Diases - Lukman mengutip pandangan Lennart Nordenfelt, bahwa kesehatan tidak hanya menyiratkan fakta ilmiah tertentu mengenai tubuh seseorang tetapi juga menyiratkan kondisi tubuh atau mentalnya. 

Lukman juga menggunakan pandangan Made Wardana - yang mengkritik pendekatan kedokteran modern yang hanya memandang pasien dari aspek fisiknya saja, tanpa memandang aspek spiritual atau ruh pasien. 

Alasannya karena manusia adalah hal yang kompleks - ia tidak dibangun oleh aspek fisik saja. Maka dari itu, Lukman menyarankan bahwa untuk menghindari semakin jauhnya paradigma dokter-pasien, hendaknya seorang dokter melihat pasiennya sebagai manusia seutuhnya; manusia dalam aspek fisiknya dan non-fisiknya. 

Lukman tampaknya berusaha menarik metode empirik kedokteran dengan ide-ide yang sifatnya spiritual/supernatural; Dia menekankan bahwa aspek mental atau psikis hanya dapat ditangani lewat jalur supernatural. 

Padahal kondisi fisik dan mental adalah perkara empirik. Misalnya dalam disiplin psikologi. Psikologi memahami kondisi mental dengan melacak pola perilaku dan latar belakang seseorang. Alih-alih merujuk pada hal yang bersifat supernatural, bukan kah memakai pendekatan sains itu lebih baik dan menjelaskan? 

Dalam filsafat manusia, jika berbicara mengenai kesehatan, sangat banyak pandangan filsuf yang dapat kita jadikan acuan. Misalnya Baron von Holbach - yang di pengaruhi Hobbes - mengklaim bahwa manusia (termasuk pikiran atau kesadaran) terdiri dari materi. Jiwa dan akal budi hanya dianggap sebagai bagian dari proses mekanis di dalam tubuh. 

Lebih jauh lagi, Holbach mengklaim bahwa alam semesta, tak terkecuali manusia, terdiri dari aglomerasi atom-atom fisik. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Demokritos - filsuf yang menjadi pondasi filsafat materialisme. Jadi di sini jelas bahwa diri kita tersusun atas prinsip-prinsip material; dan jelas bahwa kesehatan mental dan tubuh tidak berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya supernatural. 

Maka dari itu untuk menangani kesehatan manusia, pendekatan spritual tidak dapat dijadikan opsi (jika kita sepakat dengan epistemologi sains ilmiah). Sebab, pendekatan spiritual/metafisik tidak memiliki nilai objektif apapun.

Supernatural Bukan Sains

Lukman memakai pandangan Made Wardana bahwa sehat (health) adalah fenomena yang tidak mudah dijabarkan meskipun ia dapat dirasakan dan diamati keadaannya. Artinya, orang yang terlihat sehat (secara kasat mata) belum bisa diklaim bahwa dia benar-benar sehat.

Saya sepakat dengan pandangan ini, bahwa kita memang belum bisa mengklaim sehat-tidaknya seseorang hanya dengan melihatnya secara mentah, namun begitu hanya karena kesehatan seseorang tidak dapat diamati secara mentah, bukan berarti bahwa itu menunjukkan hubungan apapun dengan hal-hal metafisik/supernatural. Tidak sama sekali! Sebaliknya itu terjadi karena keterbatasan indera kita. Artinya, yang kita butuhkan untuk menutupi keterbatasan inderawi tersebut adalah alat (teknologi), bukan ide-ide metafisik. Karena (sekali lagi) ilmu kesehatan itu sifatnya objektif-empirik, bukan spritual.

Misalnya, kita bisa mendeteksi kondisi fisik seseorang (bahkan sampai detail terkecil sekalipun) menggunakan teknologi Breathalyzer. Melalui Breathalyzer ini dokter bisa mendiagnosis kondisi kesehatan pasien hanya melalui hembusan nafasnya saja. Jadi di sini kita sama sekali tidak membutuhkan gagasan-gagasan yang bersifat metafisik sebagaimana yang disarankan Lukman. 

Selain itu, ada satu hipotesis yang ditulis Lukman pada awal buku ini yang menurut saya terlalu sembrono, yaitu tentang bion. Saya tidak mengerti apa landasan beliau menyamakan bion atau bio-elektrisitet dengan roh sebagai unsur non-materi yang, dalam agama, dianggap sebagai asal-muasal kehidupan itu. 

Saya telah mencari beberapa literatur yang membahas tentang bion, namun saya tidak menemukan satu pun literatur yang mendukung pandangan beliau yang menyamakan bion dengan roh. Justru sebaliknya, saya menemukan bahwa kata bion hanyalah sebutan bagi organisme hidup, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan roh atau hal yang bersifat non-materi lainnya.

Lebih jauh, dalam Ensiklopedia Norwegia menyebutkan bahwa istilah bio-elektrisitet adalah fenomena listrik pada organisme hidup. Sementara dalam Ensiklopedi Britanica, bio-elektrisitet disebut sebagai bioelectric (biolistrik). 

Di sana dijelaskan bahwa energi biolistrik dihasilkan oleh berbagai proses biologis dan umumnya memiliki kekuatan yang berkisar dari satu hingga beberapa ratus milivolt. Bioelektrik ini terdiri dari aliran ion (yaitu atom atau molekul bermuatan listrik) yang bermuatan positif dan negatif. 

Biolistrik makhluk hidup ini memiliki cara kerja yang hampir serupa dengan baterai pada materi anorganik. Jika energi baterai berasal dari elektron, sedangkan pada makhluk hidup, biolistrik berasal dari kerja-kerja biologis. Maka jelas bahwa proses kerja bio-elektrisitet atau biolistrik ini masuk ke dalam kajian biofisika, bukan bio-metafisika. 

Sangat aneh bukan jika baterai atau fenomena alam lain seperti bion dianggap berasal dari hal-hal metafisika? Hal yang umum jika energi lahir dari suatu unsur materi, entah itu ion atau elektro, alih-alih dari hal-hal supernatural/metafisika. Karena sulit bagi kita untuk menjelaskan bagaimana materi bisa berinteraksi dengan hal-hal yang immateri. Mustahil. 

Maka dari itu, pandangan yang berakar dari keyakinan supernatural yang 'dipaksakan' ilmiah sebagaimana yang menjadi dasar buku ini kurang tepat untuk dijadikan pertimbangan dalam kajian kodekteran modern yang materialis. Sebab pandangan yang berdasarkan keyakinan semacam itu tidak dapat diuji kebenarannya dan tentu saja tidak dapat dianggap sebagai sains, apalagi kedokteran.

Kresionisme?

Argumen-argumen yang digiring oleh Lukman dalam bukunya jelas memiliki tendensi yang mengarah pada hal-hal yang sifatnya supernatural. Semuanya dibuat seolah-olah ilmiah, padahal tidak sama sekali. Seperti pembahasan beliau tentang bion atau bio-elektrisitet yang telah saya jelaskan sebelumnya. 

Menurut beliau, semua kehidupan didasarkan pada bion/spiriton ini, yang mana konon dihembuskan oleh Tuhan. Ini jelas merupakan pseudoscience; gagasan yang masif dibawakan oleh kelompok Kreasonis yang mempercayai ide tentang Intelligent Design.

Menurut sejarawan, Ronald Numbers, gagasan Intelligent Design hanyalah pandangan teleologis (bukan saintifik) tentang adanya satu pencipta yang cerdas: Tuhan. Dan mereka yang menggunakan gagasan semacam ini jelas melakukan pelecehan terhadap metode-metode ilmiah, yang mana telah lama menjaga jarak dari diskusi-diskusi teologis semacam itu selama ratusan tahun. 

Jadi narasi-narasi yang dilemparkan oleh Lukman dalam bukunya jelas tidak bisa diletakkan dalam meja laboratorium sains yang pada dasarnya tidak menerima hal-hal yang berbau spiritual atau metafisik dalam bentuk apapun.

Dalam tulisan yang berjudul 'Science and Creationism: A View from the National Academy of Sciences', menyebutkan bahwa ide-ide kreasionisme, Intelligent Design, dan klaim-klaim intervensi supranatural lainnya tentang kehidupan bukanlah sains karena ia tidak dapat diuji secara ilmiah. Bahkan tak jarang saintis seperti Robert T. Pennock dan Lawrance Kraus menganggap bahwa gagasan semacam itu sebagai sampah.

Semua gagasan-gagasan yang berkaitan dengan wacana kelompok Kresonis hanyalah usaha untuk mengejar ketertinggalan kaum agamis dalam ilmu pengetahuan dengan menciptakan penjelasan-penjelasan yang tampak ilmiah demi mendukung iman mereka. Pandangan kelompok Kreasionis yang menghubungan kejadian-kejadian metafisik atau supranatual dengan entitas biologis atau materi sama sekali tidak bisa dimasukan ke dalam kajian sains karena tidak memiliki nilai objektif yang layak diamati. 

Padahal jika kita berbicara mengenai kehidupan, sains dan fakta ilmiah saja sudah cukup menjelaskannya. Alih-alih ruh atau hal-hal metafisika lainnya, sains telah membuktikan bahwa kehidupan berasal dari materi, tepatnya senyawa-senyawa anorganik (benda tak hidup): Abiogenensis. 

Tentu saja kehidupan tidak berasal dari hembusan-hembusan gaib apapun! Miller dan Urey telah membuktikannya dan mendokumentasikan penelitian mereka dalam jurnal yang berjudul 'Production of Amino Acids Under Possible Primitive Earth Conditions'. Dari penemuan Miller-Urey tersebut lah para saintis menyadari bahwa yang pertama terjadi di alam semesta adalah evolusi kimia, lalu kemudian evolusi biologi (teori yang diperkenalkan oleh Darwin dalam The Origin of Species). Tanpa ada campur tangan entitas supernatural apapun dalam prosesnya. 

Mitos ke Logos

Hari ini, narasi-narasi supernatural tidak lagi dibutuhkan untuk menjelaskan fenomena kehidupan. Itu mungkin berhasil di zaman nenek moyang kita - seratus atau ribuan tahun yang lalu. Maka dari itu, jika kita tetap kukuh dalam narasi-narasi pseudoscience semacam itu, itu justru akan menjadi penghambat kemajuan pengetahuan ilmiah kita. Sebagaimana yang disampaikan filsuf eksistensialis, Friedrich Nietzsche: Bahwa keimanan adalah musuh bagi kemajuan dan kebenaran.

Oleh karena itu perubahan paradigma dari mitos ke logos adalah fakta; Ide-ide metafisik mungkin memuaskan dalam menjelaskan fenomena-fenomena alam ratusan tahun lalu, tetapi saat ini tidak lagi! Maka dari itu pembahasan mengenai penyakit dan kesehatan mustinya dilihat melalui kacamata filsafat yang lebih realistis, bukan pada gagasan yang spekulatif dan pseudoscience  yang jelas sudah tertolak dalam diskursus-diskursus ilmiah.

Fadhel FikriManusia yang berteman dengan sunyi.

Lebih baru Lebih lama

Dukung Kami