Loading...
Open Recruitment

Beberapa hari yang lalu mungkin Anda sudah membaca salah satu artikel di laman web ini yang berjudul “Tentang Kepercayaan, Mitos, dan Kebenaran Baru di Masa Depan”. Dalam tulisan tersebut, Fadhel menjelaskan bagaimana proses perkembangan kepercayaan sekaligus menguraikan bagaimana kepercayaan tersebut memudar dan bahkan hilang sama sekali karena perkembangan kognitif manusia, terutama sains.

Dalam tulisan tersebut, dia membawa kita pada sebuah sintesa yang terkesan mendiskreditkan agama atau kepercayaan yang dianggap telah berada di puncak perjalanannya menuju mitos di masa depan, seperti kepercayaan nenek moyang kita yang hari ini banyak dianggap sebagai mitos. 

Atas dasar tulisan itulah saya merasa tertarik membuat ini sebagai bentuk respon dan kritik saya terhadap sebagian atau mungkin keseluruhan poin dalam tulisan tersebut. Sebab ada hal mengganjal dan menarik di tulisan itu yang bagi saya patut untuk didiskusikan. Meskipun harus diakui sulit bagi saya (bahkan mungkin mustahil) untuk membuktikan kebenaran agama sesuai dengan standar yang Fadhel tekankan (bukti-bukti ilmiah), namun sejauh hemat saya, agama tetap memiliki dimensi epistemologi yang berbeda dengan sains yang hanya mendasarkan kebenarannya atas apa yang tampak (empirik dan fenomenologis). 

Olehnya menurut saya, mengadu kebenaran agama dan sains - seperti yang dilakukan Fadhel - sama seperti memperdebatkan klaim yang didasarkan pada keyakinan masing-masing. Membuktikan kebenaran agama dalam epistemologi sains sepenuhnya tidak dapat dilakukan; Sama halnya, mengklaim bahwa agama 'salah' dengan memakai epistemologi sains juga adalah klaim yang arogan dan terburu-buru - mengingat cakupan pengamatan sains yang tidak lebih besar daripada realitas empirik yang ada.

Agama itu sangat kompleks - ia tak mudah dipahami. Ia hanya pantas ditempatkan dalam ruang iman saja, sebab agama lahir bukan semata-mata dari suatu perenungan akal budi, ia juga lahir dari kesaksian atas suatu eksistensi yang melampaui realitas empirik kita. Kita dapat beranggapan bahwa para pembawa ajaran agama (nabi/rasul) adalah orang-orang istimewa yang diberikan tiket langsung untuk bertemu Tuhan dan lalu menyampaikan ajaran-Nya dengan bahasa yang mudah dipahami manusia sehingga pada tahap berikutnya membentuk suatu kebudayaan. Selain itu, mempelajari agama sebagai fenomena bagi saya belum tentu bisa menjelaskan suatu pengalaman spritual dan penghayatan terhadap agama, termasuk beragam ekspresi kepercayaan yang ada.

Saya kira jalan yang dapat kita lakukan dalam melihat posisi antara agama dan sains adalah dengan mengkaji kembali perbedaan ontologis tentang bagaimana agama atau kepercayaan tertentu muncul; sebab ini juga dapat memengaruhi, secara epistemologis, nilai kebenaran suatu kepercayaan. Contoh: animisme. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa animisme meyakini akan keberadan jiwa-jiwa di setiap mahluk hidup. Dalam melihat nilai kepercayaan animisme ini, kita tentu tidak boleh sekadar melihat 'apa yang mereka percayai', sebaliknya, 'mengapa itu dipercayai': kepercayaan animisme menunjukkan rasa syukur, takzim, atau bentuk kebergantungan manusia kepada alam. Ini tentu saja berbeda dengan bentuk agama-agama Samawi yang menilai Tuhan sebagai sesuatu yang terpisah dari manusia. 

Batas-Batas

Kita dapat berdebat tentang kebenaran agama secara rasional dengan memberikan pembuktian-pembuktian empiris, namun seberapapun ketatnya logika kita ia masih mematuhi hukum dari pandangan-pandangan dunia kita. Olehnya membuktikan kesalahan atau kebenaran agama secara empirik juga adalah hal yang mustahil, sebab pengamatan manusia terbatas pada realitas fisik saja. Dengan kata lain, sebesar apapun evolusi kognitif manusia berkembang ia tidak akan dapat melebihi realitas fisik itu sendiri. 

Seseorang bisa mengatakan agama adalah kebohongan, tetapi mereka tak memiliki bukti apapun bahwa itu adalah kebohongan. Sama halnya, seorang bisa mengatakan bahwa agama itu benar, namun mereka pun juga tak punya bukti konkret untuk menunjukkan kebenarannya. Sekalipun agama adalah benar, kemungkinan besarnya adalah bahwa bahasa agama tak akan mungkin dapat dipahami, karena itu adalah bahasa ilahi yang melebihi batas pemahaman manusia.

Jika jawaban itu harus mengacu pada bukti sementara keduanya (baik yang percaya maupun yang tidak percaya) tidak punya bukti untuk menunjukkan kebohongan maupun kebenaran agama, lalu apa yang harus dilakukan? Ditambah lagi memperdebatkan keotentikan agama baik secara afirmatif ataupun negatif juga adalah omong kosong. Olehnya alternatif yang sangat mungkin kita lakukan menilik persoalan tersebut adalah: Pertama, kembali kepada keimanan dari praktik aktual orang-orang beragama serta penghayatan mereka atas kitab sucinya. Kedua, bersikap bijak untuk menghormati kepercayaan tersebut bagi orang-orang yang tidak mempercayainya serta tidak melakukan generalisasi bahwa agama adalah mitos dan sebagainya.

Bagi saya keduanya tidak perlu meributkan klaim kepercayaan masing-masing, mengingat tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Saya sepakat dengan Fadhel, bahwa kita harus beradaptasi dengan kebenaran baru. Namun bukan berarti kita harus menerima teori baru sebagai kebenaran begitu saja. Itu hal yang saya kira perlu digaris bawahi. Sehingga kita tidak terjebak dalam pembacaan situasi dan asumsi realitas yang palsu - yang tak berbeda dengan kelompok ekstrimis atau fundamentalis yang melakukan tuduhan dan olok-olok kepada orang di luar dari kelompoknya.

Subchan Adi MMahasiswa yang lupa diri.

Lebih baru Lebih lama
Open Recruitment